DAG…!

Suara bunyi pintu digebrak. Harusnya bunyinya BRAK. Seperti akhiran kata gebrak itu sendiri. Tapi ini pintu dari kayu jati. Jadi terdengarnya DAG. DAG yang sebenarnya dipukulkan dengan keras. Namun suaranya sedikit tertahan oleh tebalnya pintu itu sendiri. Dan sebuah gebrakan takkan mampu membuat pintu itu terbuka. Apalagi hanya sebuah gebrakan DAG kecil seperti tadi. DAG? Ah.. Pokoknya aku mendengarnya berbunyi DAG. Habis perkara.

DAG…! DAG..! DAG..!

Dag yang kedua, ketida dan keempat. Kali ini lebih keras. Sepertinya bukan hanya satu kepalan tangan saja yang diayunkan. Menandakan si penggebrak bukan orang yang sabar. Ia menuntut pintu di hadapannya terbuka. Dipikirnya, dengan menggebraknya tiga kali maka pintu itu akan terbuka dengan sendirinya.

Dasar keras kepala!

 

DAG!! DAG!! DAG!!

DAG lagi. Kali ini dua kali lebih keras dari sebelumnya. Tamu macam apa dia?! Sangat tidak sabaran dan terlalu penuntut. Sudah habis kesabaran rupanya dia, hingga nekad menggebrak pintu itu dengan gebrakan bertubi-tubi. Dan bukan hanya dia yang kekurangan stok sabar. Aku juga. Kesabaranku perlahan menyusut seiring semakin sering bunyi DAG itu terdengar di pintu ruang tamu. Bergegas aku berjalan menuju pintu. Aku penasaran. Ingin segera mengetahui siapa gerangan si penggebrak itu? Seharusnya dia berpikir seribu kali sebelum berani menggebrak pintu rumah ini seperti itu.

 

DIG(H)!

Segera setelah pintu jati itu menjeblak terbuka, sebuah hantaman keras mampir di pelupuk mataku. Menghantam juga sedikit di bagian pelipis mataku. Ya.. bunyinya DIG. Kependekan dari JDIGH..

Si*lan! Siapa yang berani meninjuku seperti ini?! Umpatku dalam hati.

“Hey, mau apa kamu?” kutangkap tangan mungil perempuan di hadapanku ini sebelum ia sempat melayangkan pukulannya yang kedua. Mata kananku yang baru saja ditinjunya itu kini membiru. Terasa nyeri. Nyeri campur kesal.

“Mana dia?!” tanyanya.

“Dia siapa?”

“Jangan pura-pura. Ngapain kamu sembunyiin dia?” tuduhnya.

“Sembunyiin apa??” kali ini sabarku semakin mendekati batasnya.

“SUAMIKU!” teriaknya. Keras. Membuatku spontan mengernyitkan dahi. Bukan. Bukan karena malu aibku terbongkar. Hanya saja…

Suaminya? Yakin suaminya ada di sini? Tanyaku. Masih dalam hati.

Perempuan itu menjerit, memaki dan mengeluarkan kata-kata yang nggak jelas. Aku tak tahu apa yang diucapkannya. Suaranya mendengung. Campuran teriakan dan tangisan. Aku ingin memintanya untuk tenang. Tapi pelupuk mataku yang membiru ini masih terasa berdenyut-denyut. Aku justru lebih berkonsentrasi mengusapnya daripada mendengarnya berbicara.

 

Tiba-tiba saja di dekatku sudah ada kaki-kaki renta berdiri berjejer. Tiga pasang kaki memakai sandal, dua orang bersepatu, dan yang seorang lagi hanya berkaos kaki. Duduk di atas kursi roda.

Perempuan di hadapanku menyeka air matanya. Menatap wajah renta di hadapannya satu persatu. Lalu beralih padaku. Aku menyunggingkan senyum.

“Nah.. yang mana suamimu?” tanyaku. Sang perempuan menatapku penuh tanya. Aku menunjuk sebuah papan di atas kepala kami untuk menjawab pertanyaan dalam benaknya. Sebuah papan bertuliskan “RUMAH JOMPO”. Sang gadis tersenyum salah tingkah. Mengucap maaf bertubi-tubi padaku. Lalu ia mohon pamit.

Aku membungkuk untuk mengambil sesuatu. Lalu segera bangkit berdiri.

“NONA…!” panggilku. Ia menoleh.

 

DUG!!

Sepatu hitam berhak lima sentiku kini teronggok manis di depan hidung mancungnya.

–sekian–

 

Hari Kedua… :mrgreen:

Iklan

10 pemikiran pada “DAG DIG DUG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s