Halo, siapa namamu?


Kamu berjalan cepat sedikit terburu. Mendekati sepeda motor hitamku. Seperti biasanya. Pada jam tujuh kurang sepuluh. Dengan seragam yang sama, tas selempang yang sama serta kuncir rambut ekor kudamu. Tak ketinggalan topi merah bergambar setan kecil menghias di sudut kanan atas bagian depannya.

Tanpa bersuara, kau naik ke boncenganku. Seperti biasa, memintaku mengantarkanmu ke kantor. Kantor yang terletak di pusat kota. Segera setelah kita sampai di sana, kupastikan kau akan mencepol rambut ekor kudamu yang sepunggung itu, menghias paras ayumu dengan pulasan blush on warna pink yang senada dengan pemerah bibirmu. Meskipun sesungguhnya kau tak membutuhkan kedua benda itu. Paras wajahmu tanpa riasan jauh lebih menarik. Sangat menarik justru, ditambah sikap tomboymu yang membuatmu terlihat natural.

Sebut aku gombal. Tapi itu memang kenyataannya. Aku suka jika kau tanpa riasan make up, yang hanya membuatmu terlihat lebih tua dari usiamu yang sesungguhnya. Dan jika boleh jujur, kamu justru terlihat jauh lebih cantik tanpa polesan benda-benda kimia buatan pabrik itu.

***

Pagi yang sempurna. Si cantik menyunggingkan senyum sepanjang pagi ini. Kali ini rambut hitam lebatnya dibiarkan tergerai indah. Rambut panjangnya yang dihiasi bando berpita mungil. Kulirik jam di pergelangan tanganku. Jam enam lebih tiga puluh tiga menit. Dia bangun lebih pagi dari biasanya. Dibisikkannya kalimat singkat di telingaku. Membuat dadaku berdesir. Padahal hanya kalimat biasa. Namun keharuman aroma shampoo dari rambut panjangnya yang melebur dengan suara merdunya, ternyata mampu membuat dadaku bergemuruh. Aku merasa gugup dan salah tingkah. Padahal hanya kalimat biasa. Kalimat sederhana yang diucapkannya sembari berbisik di telingaku, “Jalannya pelan-pelan saja ya.. Ngga usah terburu-buru…”.

Ah dua kalimat. Dua kalimat yang membuatku mabuk kepayang.

 

“Seperti apa dia?” tanya Ratri pada suatu sore di bulan Januari.

“Dengan hanya melihatnya saja, aku sudah terpana,” jawabku datar. Namun sekelebat bayangan si cantik berputar-putar di benakku.

“Pertemukan aku dengannya. Boleh?” tanya Ratri penuh harap.

“Oke..” jawabku.

Maka, pagi itu aku menunggu si cantik dengan perasaan berdebar. Aku harus bisa meyakinkannya untuk mau kuajak menemui Ratri. Lalu menemui ibuku, ayahku dan keluarga besarku. Ya, semenjak aku melihatnya aku sudah yakin bahwa dia akan menjadi pendampingku. Belahan jiwaku. Ibu dari anak-anakku. Istriku.

Ya.. aku bahkan sudah punya gambaran tentang pernikahan kami. Kubayangkan ia akan mengenakan kebaya merah menyala yang akan kontras dengan kulit putihnya. Lalu bibirnya yang mungil akan dipoles lipstick sewarna dengan kebayanya. Atau mungkin biar saja tetap berwarna pink seperti warna aslinya?

Kubayangkan ia akan tersipu saat kami berdua berhadapan. Dan aku pun memasangkan cincin emas di jari manisnya. Ah.. aku sudah tak sabar lagi. Aku tak sabar lagi mencium lembut keningnya tanda bahwa ia sudah resmi menjadi istriku.

Dan sebuah tepukan di belakang punggungku mengembalikan aku ke tempatku berpijak. Di atas tanah di bawah sebuah pohon rindang. Tempatku biasa menunggunya. Ah inilah saatnya. Tibalah aku untuk mengatakan sebuah kalimat yang sudah sejak lama seharusnya kutanyakan padanya. Maka akupun memberanikan diri bertanya,

“Halo, siapa namamu?” tanyaku pelan pada gadis cantik di hadapanku, gadis yang selalu kuceritakan pada Ratri. Yang selalu duduk di boncenganku setiap pagi..

 

pelanggan tetap ojeg motorku.

–selesai–

 

Tulisan ini diikutkan pada event #15HariNgeblogFF. Infonya bisa diliat di sini ya… 😀

Gambar dari sini

Hari ke 1.

Iklan

13 pemikiran pada “Halo, siapa namamu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s