Nyaris


kafe

Bagian 1: Kedai Kopi

Bagian 2: Kedai Kopi Ooh Kedai Kopi

Bagian 3: Di Ujung Jalan Itu

Bagian 4: (Adakah Cinta) Di Ujung Jalan Itu

Bagian 5: Hasan dan Laras

Bagian 6: Hasan dan Laras (salah euy.. kedobelan) :mrgreen:

Bagian 7: Pengakuan

Bagian 8: Jaket Oranye

Bagian 9: Everything Gonna Be Okay

 

Sejak kehilangan jejak gadis misterius berjaket oranye.. Hasan selalu menyempatkan diri mampir ke kedai kopi dan menunggu gadis berambut sebahu itu.. Di waktu senggangnya, ia selalu menghabiskan waktunya untuk mencari tahu keberadaan si jaket oranye.. Dia selalu kembali ke kafe yang sama hanya untuk mencari si gadis pembalap.. Hari Kamis, Jumat, Sabtu.. nihil.. sudah tanya sana sini ngga ada yang mengenalnya.. Apalagi ia ngga punya keterangan selain gadis itu pernah mengantarkan makanan ke kedai kopi tempat ia pertama kali mengawali perjalanan cinta yang tak berjalan mulus dengan seorang gadis berbaju gamis..

Hasan menanti berjam-jam di kedai kopi berharap ia akan dapat bertemu lagi dengan si jaket oranye.. Namum penantiannya tak berujung, hingga sedetik kemudian ia mengingat sebuah petunjuk baru.. Nomor 14.. Ya..! Di belakang punggung gadis berjaket oranye itu ada angka 14 tertera.. Hasan pun segera memanggil seorang waitress dan bertanya padanya apakah ia mengenal seorang gadis berjaket oranye dengan nomor 14 di punggungnya. Si waitress tersenyum ramah. Beberapa saat mereka terlibat pembicaraan hingga tak lama kemudian si waitress memberikan petunjuk arah pada Hasan..

Hasan tersenyum lebar, entah apa yang tengah dibicarakan oleh keduanya beberapa saat sebelumnya. Tapi sesaat kemudian Hasan keluar dari kedai kopi itu dan berjalan keluar menuju ke sebuah tempat yang sebelumnya ditunjuk oleh si waitress..

DHUAARR…

Sebuah cahaya terang berkelebat dan tak lama kemudian suara petir pun terdengar. Ah siyaaal… kenapa harus hujan lagi? Sementara hujan selalu mengingatkannya akan kebodohan-kebodohannya yang telah lalu.. Baru saja Hasan hendak merutuki hujan.. Sebuah pemandangan yang dikenalnya lewat di hadapannya. Sang gadis berjaket oranye. Tengah melintas tepat di hadapannya.. dengan jaket oranye bernomor punggung empat belas..

Hey.. tunggu aku!

Ada yang ingin kusampaikan..

Benar begitu khan mba penulis? Tanya Hasan sambil tersenyum..

Dan perempuan muda di balik komputer layar datarnya tersenyum pada Hasan.

“Ayo kita lanjutkan petualanganmu Hasan.. :D”


Iklan

Satu pemikiran pada “Nyaris

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s