Menitipkan hidup..


jigana mah cinta

“Boleh saya menitipkan hidup saya?”

Ujarmu datar.

Ah, menjaga hatimu saja saya tidak berhasil. Apalagi harus menjaga hidupmu?

***

 

Dan untuk yang kedua kalinya aku melihat kesungguhan dalam tatapan matanya yang tajam. Baiklah. Aku akan mencobanya sekali lagi.

“Tapi ini hidupmu, apa kau yakin?” Aku bertanya kembali padanya. Lebih untuk memastikan. Dan aku menatap kesungguhan saat ia mengangguk dan pergi meninggalkan aku yang kini tengah menggenggam hidupnya. Dengan kedua tanganku.

 

Ah, apa yang bisa kulakukan dengan hidup ini? Hidupnya, lebih tepatnya. Sejenak aku menatap hidup dalam genggaman tanganku. Sama seperti hatinya. Hidupnya terlihat menyedihkan. Terlalu banyak kisah sedih yang tergambar di sana. Sebagian besar kisah yang terekam menampakkan kesedihan. Aku membolak-balik benda mungil dalam genggaman tanganku. Memastikan bahwa isinya tak hanya kisah sedih. Dan di sanalah aku menemukannya. Benda mungil yang bernama harapan. Dan harapan itulah yang membawanya datang menyerahkan hati dan kini hidupnya, padaku.

Aku terduduk. Mengapa aku? Mengapa ia begitu mempercayai aku? Entahlah. Dan benda mungil di tanganku memaksaku berkonsentrasi penuh padanya. Sungguh memprihatinkan ketika melihat benda yang rapuh berada dalam tempat yang tak kalah rapuhnya. Hatinya yang luka di tiap bagiannya nyatanya baru sebagian kecil. Ini hidupnya. Dan kondisinya pun tak jauh berbeda. 

Aku berdiri dan membawa hidupnya bersamaku. Maka kuperlakukan ia nyaris seperti aku memperlakukan diriku. Hidup itu seperti roller coaster. Dan ia memiliki ritmenya sendiri. Tak seperti hati yang bisa kubawa kesana kemari. Hidup jauh lebih kompleks. Apalagi ini hidupnya. Aku hanya bisa mengawasinya dari jauh sementara ia bergerak dengan kemauannya sendiri.

 

Jika  pada hati aku membawanya menikmati keindahan serta mengajaknya kemanapun aku pergi. Tak demikian halnya dengan hidup. Ia tak bisa sesukanya kubawa. Ia bergerak dengan sendirinya. Seakan dapat memilih jalannya sendiri.

Seperti mengasuh anak yang baru belajar berjalan, aku hanya dapat mengawasinya. Dan jika aku mengangkatnya terlalu lama, ia akan meronta dan memaksaku meletakkannya lagi. Aku pun berusaha mengerti dan memahaminya.

Jika pada hati ia mengikutiku, kali ini aku lebih longgar pada hidup. Ketika semua berjalan tak sesuai dengan apa yang aku inginkan, aku belajar menerimanya. Itulah hidup. Terkadang menyenangkan hingga membawaku ke awang-awang, namun tak jarang menghempaskan aku dengan kejam.

Dan perlahan, hidupku dan hidupmu berjalan beriringan. Bersama saling bergantung satu sama lain. Yang satu menopang yang lain. Seakan terikat oleh benang yang kasat mata. Seperti tak dapat dipisahkan. Sampai suatu ketika kau datang untuk mengambil hidupmu lagi. Sementara aku telah terbiasa menjaganya. Lebih tepatnya, kami saling menjaga satu dengan yang lain.

 

“Jika kau ambil hidupmu lagi, bagaimana dengan aku? Sedang aku telah terbiasa bersamanya?” jerit hatiku perih.

Dan akhirnya, aku menyerahkannya kembali padamu. Tak pernah kubayangkan sebelumnya jika hidupmu ternyata membawa perubahan besar dalam diriku. Dan tanpanya, aku merasa hampa.

 

Malam itu aku menanti di bawah sebuah pohon. Rasa dingin menyergap menusuk ke pori-pori kulit. Dinginnya menjalar ke seluruh tubuhku. Perlahan seluruh tubuhku membiru.

Kuberanikan diri mendekat dan mengetuk pintu besar di hadapanku. Rasa dingin menguasai tubuhku dan aku mati rasa. Seseorang membuka pintu dengan wajah terkejut. Tak menyangka aka nada yang dating selarut ini. Aku menatap tajam langsung ke dalam matanya,

“Boleh aku menitipkan hatiku padamu?” Pintaku.

Laki-laki itu mengulurkan tangannya menerima hatiku yang rapuh dalam balutan kain putih. Lalu aku beranjak pergi.

***

 

Lelaki itu masih terpana. Menggenggam benda mungil dalam balutan kain putih. Sebuah hati yang terluka cukup parah. Jika sebelumnya ia yang menitipkan hatinya, kali ini gadis itu yang menitipkan padanya.

Angin malam berhembus kencang, memaksanya merapatkan mantel sebelum kembali masuk ke dalam rumah. Di bawah pohon rindang tubuh sang perempuan bergerak perlahan. Bergoyang-goyang tertiup angin. Dengan seutas tali tergantung, dan melilit leher jenjangnya.

 

 

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Menitipkan hidup..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s