Pasraahh..


lilin

cerita sebelumnya

Aku hanya bisa terdiam mematung. Pasrah akan nasibku. Jikalau aku harus mati dengan leher terpisah dari tubuhku, mungkin itu sudah jalanku. Aku yakin, semua makhluk yang bernyawa pasti akan mati. Hanya dengan cara bagaimana dan kapan waktunya tak ada yang dapat mengetahuinya.

 

Seseorang masuk ke dalam kamar. Mengawasi kami satu persatu. Lalu membawa beberapa teman sekamarku keluar. Dan sudah rahasia umum, jika sudah dibawa keluar dari kamar ini, maka mereka takkan pernah kembali lagi. Sampai saat ini, tak satupun dari kami tahu, kemana mereka dibawa.

Hanya tersisa kami berdua belas di kamar ini. Dan sepanjang sisa hari itu tak ada satupun dari kami yang bersuara. Kami semua sedang berduka. Tanpa perlu diperintah, kami semua merapat, dan saling menyenderkan tubuh satu dengan yang lain.

 

Pagi itu, pria yang membawa ketiga temanku, datang lagi. Kali ini ia memerintahkan kami semua untuk bersiap, lalu membawa kami pergi. Aku tahu, inilah saatnya. Inilah ujung penantianku. Ajalku hampir tiba. Satu per satu dari kami menuju tempat eksekusi. Kami semua tertunduk lemas. Tak ada lagi raut wajah kesedihan. Semua tersenyum tenang penuh kepasrahan. Seandainya aku diberi kesempatan, ingin aku memberikan pesan-pesan terakhirku.

“Suamiku, aku titip kelima anak kita. Maafkan aku karena pergi dari rumah tanpa pamit. Pergi begitu saja tanpa ijinmu. Sungguh.. saat itu aku hanya berharap bisa membantumu agar kita tidak hidup susah dan kekurangan pangan. Tapi ternyata ini yang harus kuterima. Menerima vonis hukuman pancung yang dibebankan padaku. Biarlah, kupasrahkan semuanya pada Dia Sang Pemilik Hidup. Aku hanya ingin kau tahu bahwa.. aku mencintaimu suamiku, aku mencintaimu..”

 

Tibalah giliranku.. dan pria yang akan mengeksekusiku segera mendekat. Aku hanya mampu mengulang kata-kata yang akan kuingat seumur hidupku.. “aku mencintaimu suamiku.. aku mencintaimu..”.

 

Perlahan suaraku menghilang seiring pria itu menebas tenggorokanku….

 

 

 

 

10 menit sebelumnya

Pria berpeci itu menatap pria berkacamata di dekatnya. Berkata dengan suara berbisik, “tak bisakah kau menenangkannya?”

“Ngga bisa.. dari tadi dia tak bisa diam..”.

“Kita lanjutkan saja..?” tanya sang pria berpeci, yang dijawab dengan anggukan kepala.

“Bismillah..”

 

“mbeeeeeeeekkk…”

 

 

dan sang kambing pun menghembuskan nafas terakhirnya…

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s