Hanya tinggal menunggu waktu..


aku ngenteni sliramu

Aku menutup gagang telepon setelah terdengar suara seorang perempuan menjawab telepon genggam kekasihku di seberang sana. Katanya handphone-nya tidak aktif atau sedang berada di luar service area.. dan kecemasan melandaku..

 

Aku tak mendengar kabar berita darinya lebih dari 48 jam. Tak seperti biasanya. Mungkin memang di tempat tugasnya tak ada sinyal? Entahlah.. dan untuk kesekian kalinya.. kecemasan melandaku..

 

Aku mencoba menyibukkan diriku. Membersihkan seluruh penjuru rumah.. Merubah susunan kursi dan lemari, menyusun kembali baju-baju di lemari. Apa saja kulakukan.. demi berusaha untuk membuat lelah diriku.. agar tak tersisa waktu untuk mencemaskanmu.. mencemaskan setiap hal yang membuatku merasa cemas.. juga hubungan kita..

 

Petir menggelegar.. suaranya memekakkan telinga.. Hujan deras sejak pagi tadi membuatku enggan keluar hanya sekedar membeli makanan.. Dan kini, aku sedang membenamkan diri dalam selimut.. Berusaha mencari kehangatan.. Kehangatan yang biasa kudapatkan dari dekapanmu.. Kemana dirimu sayang..? Aku mencemaskanmu..

Tak lama kemudian aku terlelap..

 

 

Sebuah kecupan mesra di leherku membuatku terjaga.. Aah.. aku pasti bermimpi.. Ini pasti karena aku terlalu merindukanmu.. Kuputuskan memejamkan mataku lebih dalam lagi.. Tak ingin membiarkan bayanganmu pergi terlalu cepat.. Pelukan hangat di pinggangku membuatku tak ingin terbangun dari mimpi ini.. Sayang, aku sungguh merindumu..

 

“pagi sayang..” sebuah bisikan lembut di telinga menyadarkanku.. Ini bukan mimpi..!

 

Kubalikkan tubuhku dan dekapan hangatmu menyambutku.. Ini memang bukan mimpi.. Kudorong kuat-kuat dada bidangmu.. Aku kesal padamu..

“kemana saja kau..? Dua hari aku tak dapat mengubungimu.. DUA HARI…!!” dan senyum simpul di sudut bibirmu membuatku tak dapat meneruskan amarahku..

“Kau mencemaskanku sayang..? Atau kau merindukanku…? Kemarilah.. aku sudah ada di sini.. Jangan mencemaskanku lagi ya..?”

 

“Bagaimana mungkin aku tidak mencemaskanmu.. Bagaimana mungkin…. sedangkan……”

Aku tak dapat meneruskan ucapanku.. dan tangan kekarmu mendekapku lebih erat dalam pelukanmu.. Masih tersisa banyak kata yang tak terucap.. dan kini tercekat dalam kerongkonganku.. Hanya batinku yang dapat menyampaikannya..

 

 

‘Aku masih mencemaskanmu sayang.. mencemaskan hubungan kita.. karena..

Bagaimana mungkin aku tidak mencemaskannya.. sedangkan aku.. aku telah merebutmu dari sisinya.. Bukan tak mungkin akan ada ‘aku-aku’ yang lain yang akan merebutmu dari sisiku.. Hanya tinggal menunggu waktu saja…

 

Bukankah begitu?’ 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s