Sebuah kata..


Perempuan itu duduk termenung di sana..

Hanya diam saja.. Tak mengucapkan sepatah katapun..

Bibirnya terkunci, matanya menatap kosong..

Entah sudah berapa lama ia terdiam di sana..

 

Di sudut lain seorang pria terduduk di depan sebuah layar monitor..

Sibuk dengan pekerjaannya..

Atau sebenarnya mencoba mencari kesibukan..

Pikirannya berputar-putar.. Sesekali matanya menatap perempuan di seberang sana..

Secara diam-diam..

Sebuah pertanyaan berkecamuk..

Apa yang sebaiknya kulakukan?

Menurunkan ego, atau memenangkan ego?

 

 

Sang perempuan masih terdiam..

Berharap sebuah kata akan terucap dari sang pria..

Meski ia tak yakin kata itu akan terucap dari bibir yang tampak kaku itu..

Sekaku hati sang pria..

Tapi untuk kali ini..

Aku tetap menantikan kau mengucapkannya sayang…

 

 

Sang perempuan berusaha menahan bulir air matanya,

Meski saat ia berpaling air mata itu jatuh jua di pipinya..

Tapi setidaknya sang pria tak pernah melihatnya meneteskan air mata…

Tidak di hadapannya…

 

 

 

Dan kekakuan sang pria tetap merajainya..

Mungkin ia menganggap sang perempuan telah memaafkannya..

Dan ia menganggap semua akan baik-baik saja..

 

Tapi siapa yang bisa membaca hati perempuan?

Meski hati itu akan selalu seluas samudera…?

 

mengapa?

mengapa kau tahan dirimu..?

mengapa selalu kau menangkan egomu?

dari mengucapkan sebuah kata yang akan membuat hati itu tak lagi terluka..

mengapa harus kau tahan dirimu..

hanya untuk mengucapkan sebuah kata..

 

 

Maafkan aku..

 


Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s