Aku jenuh..


pintu

Aku jenuh..

Jenuh? Jenuh bagaimana…?

 

Iya, sedang malas saja melihat orang-orang rumah..

Hmm… Apa lagi yang kamu lakukan..?

 

Aku?? Apa yang aku lakukan?? Mengapa jadi aku?

Tunggu dulu.. ada berapa orang di rumahmu?

 

Banyaklah…!! Kakak, adek, ibu, ayah, saudara, kakek, nenek, sepupu.. Hey.. kenapa kau suruh aku mengabsen mereka?

Dan bagaimana menurutmu perasaan mereka di rumah itu, eh.. di rumahmu?

 

Entahlah.. biasa saja mungkin.. mereka masih ‘berkegiatan’ seperti biasanya.. entahlah.. atau mungkin mereka juga jenuh..

Apa kau tak pernah mencoba berbicara dengan saudara serumahmu..?

 

Mm… aku malas.. mereka tidak akan memahamiku..

Jadi, mereka tidak memahamimu.. Dan bagaimana denganmu..? Apa kau peduli perasaan mereka..? Apa kau sudah mencoba memahami perasaan manusia lain yang tinggal di rumahmu..?

 

Aku.. ngg… belum.. (suara semakin mengecil, nyaris berbisik..)

Dan kau sudah berkata bahwa mereka tidak memahamimu…? Mengapa harus menuntut orang lain memahamimu.. sedangkan kau bahkan tidak pernah terpikir untuk mencoba melakukan hal yang sama..?

 

Apa kau peduli jika mereka juga merasa jenuh di sana? Ataukah sesungguhnya kejenuhan itu cuma merasukimu saja?

 

Entahlah.. mungkin.. bisa jadi.. (hanya sebuah pengakuan di dalam hati)

Jadi.. siapa menurutmu yang ‘bermasalah’ di sini.. kau atau mereka..?

 

…… (hening yang terlalu lama)

Sudahlah, pulang sana.. sapa saudaramu.. bicara dari hati ke hati.. jenuh itu mungkin cuma perasaanmu saja.. Biar kutebak.. kau mungkin sudah jarang melakukannya ya? Atau mungkin ratusan tahun yang lalu terakhir kalinya kau menyapa mereka tanpa terlihat canggung..? 😛

 

….. (-masih terdiam-)

Hey..!! Tunggu apalagi..?? Pulanglahh.. temui mereka…!

 

Ya.. hanya saja, kata apa yang harus aku katakan saat aku berjumpa mereka.. Aku bingung mengatakannya.. Apa yang sebaiknya aku katakan..?

Bagaimana kalau untuk pertama kalinya temui ibumu, berikan senyum termanismu lalu katakan pelan..

 

 

 

mama masak apa hari ini…? Perut saya sudah lapar… 😀

 

dan sebuah bantal kursi melayang tepat di kepalanya.. seseorang yang lain tertawa lalu berkata..

“Kau ini, di pikiranmu hanya makanan saja..”

dan keduanya tertawa bersama.. 🙂

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s