Mengingat saudara..


sister

Beberapa waktu yang lalu saya baru aja pulang kota.. *Surabaya itu kota khan ya? Bukan kampung.. -hayaaah dibahas.. :D-*, nah.. saya jadi menginjakkan kaki lagi di kota tempat saya tumbuh dan berkembang.. πŸ™‚

Kalo pulang ke rumah, saya jadi inget sama kenangan masa kecil saya.. sama pesan dan nasehat bapak mama saya. Tentang mengalah tapi bukan berarti kalah ataupun tentang mengingat saudara..

 

Seperti orang tua yang lain, mama dan bapak saya juga mengajarkan untuk akur sama saudara.. mungkin itu sebabnya bapak dan mama kami menamakan kami.. Hanggoro (dipanggil Aang), Kukuh dan Rini.. Jadi kalo nama kami digabung hasilnya.. Aang, KUkuh, Rini.. AKUR.. :D. Hehe..

 

Nah.. saya juga ingat pesan mama saya. Dulu, mama saya pernah bercerita. Mama saya anak ke 4 dari 6 bersaudara. Bisa dibilang anak tengah. Jadi mama punya tugas khusus dari nenek saya. Sebuah tugas sederhana, tapi besar sekali pengaruhnya.. tugasnya adalah berbuat adil pada saudaranya. Jadi, kalau diberi sesuatu, misalnya makanan baik oleh tante, oom, pakdhe, budhe, nenek, kakek ataupun dari siapapun (biasanya sebagai oleh-oleh), mama saya yang bertugas untuk membaginya. Supaya adil untuk setiap saudaranya. Kenapa harus dibagi rata?

Supaya kita tidak serakah, supaya kita tidak berebut, dan supaya semuanya bahagia.. πŸ™‚

Kalau ngga dibagi rata, dikhawatirkan akan saling berebut.. Berebut siapa yang kuat maka dia yang akan berkuasa.. Dan yang paling besar akan selalu minta bagian paling banyak, dan karena tenaganya yang juga paling besar.. dia pasti lebih kuat dari yang lain, terutama yang kecil.. Nah kasihan yang paling kecil khan? Bagiannya paling sedikit atau malah ngga dapat bagian sama sekali.. πŸ˜› *asli ini mah teori ngawur Rini Bee.. :D*

Dan kalau berebutan, maka yang kalah tentu yang paling kecil.. tenaganya kurang dan pasti kalah langkah maupun strategi dibandingkan saudaranya yang lebih besar.. untuk itu diperlukan penengah, yang bertugas menjaga stabilitas keamanan..

*euuh.. makin jauh bahasannya.. πŸ˜€

 

Intinya, setelah bercerita, mama saya kemudian melimpahkan tugas tersebut ke tangan saya. Mengingat saya perempuan satu-satunya dan kedua saudara laki-laki saya itu ngga terlalu suka ribet masalah ‘remeh’ seperti ini.. yang penting bagian kue atau coklat untuk mereka bisa segera dimakan dan aman dari cerita drama ‘rebut-rebutan’ barang.. πŸ™‚

Dan demikianlah.. Sejak kecil saya dapet bagian membagi makanan supaya adil suradil di antara saya dan kedua abang saya.. Eh, jangan dikiran tugas untuk membagi ini adalah tugas mudah lho.. Karena, untuk menjadi adil itu sangatlah besar tantangannya.. Kepercayaan yang diberikan sepenuhnya justru membuat saya berusaha mengemban beban berat di pundak saya *lebay.. :D*. Untuk menjamin tugas saya benar-benar terlaksana dengan baik, saya meminta ibu saya mendampingi saat saya sedang membagi, untuk membantu saya walaupun hanya mengawasi, apakah benar adil di dalam pandangan saya sama seperti yang ada dalam pandangan mama saya..? Lucunya, dulu saya sempat membawa penggaris karena khawatir kue yang saya bagi tidak sama ukurannya.. ;)), jadi ngga pake ilmu kira-kira tapi bener-bener diukur.. πŸ˜€

 

Meskipun awalnya sedikit berat, di sisi lain, banyak manfaat yang saya dapat.. Saya jadi terbiasa untuk selalu mengingat orang lain (minimal kedua saudara saya) saat saya mendapatkan makanan oleh-oleh.. meskipun itu bukan dari om/tante atau pakdhe/budhe.. Ngga tahu juga, tiba-tiba aja terlintas di benak saya kalau ada makanan yang diberikan pada saya, maka terpikir oleh saya untuk membaginya dengan kedua abang saya.. *ngga tahu juga apa mereka inget saya kalau dapet makanan.. :D*.

 

Selain itu, saya jadi tahu apa yang menjadi kegemaran kedua abang saya.. Karena, ketika saya membagi makanan dan mereka kurang suka makanan tertentu, mereka akan memberikan sebagian besar bagian mereka untuk saya.. *hadah.. :D*

 

Begitulah.. dan ketika akhirnya kami semua sudah sama-sama menikah dan tinggal berjauhan, ketika suatu saat saya mendapatkan oleh-oleh makanan tertentu saya akan langsung teringat kedua saudara saya dan terpikir dalam benak saya..

 

“Waah.. kue ini kesukaan abang nih..” sambil tersenyum mengenang wajah sumringah kedua abang saya ketika dulu mendapatkan bagiannya masing-masing.. πŸ™‚

 

Nah kalau teman-teman, inget ngga makanan kesukaan saudara kalian masing-masing? πŸ˜€

 

Iklan

2 pemikiran pada “Mengingat saudara..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s