Belajar menjadi orang baik, maka orang-orang baik akan berada di sekitarmu..


cinta

Pernah ngga ketika suatu saat kita lagi bener-bener butuh bantuan.. tapi ngga ada satupun yang ngebantu kita? Gimana perasaan kita?

Mungkin sedih, kecewa, sebal atau bahkan mau marah..? 😦


Nah.. kalo seandainya dibalik.. Pas kita sangat memerlukan bantuan, mepeeett bangettt.. pentiiingg bangeeett.. Udah ngerasa ngga mungkin banget bisa dilakukan.. tapi tiba-tiba… pertolongan datang tanpa diduga-duga.. Gimana rasanya??

Bersyukur tentunya.. Ato pengen teriak saking senengnya.. pengen joget-joget bahkan mungkin kayang di atas lemari..? Yang pasti tentu sangat bahagia khan? 😀

***

 

Nah.. yang mau saya bahas sekarang adalah tentang memberikan pengaruh positif. Percaya atau ngga sesuatu yang positif, seperti perbuatan baik, itu memiliki lingkaran kebaikan. Ketika seseorang berbuat sebuah kebaikan, pasti suatu saat nanti orang itu juga akan tergerak untuk memberikan kebaikan pada orang yang lain, meskipun mungkin tidak bisa membalasnya pada orang yang sama, yang sebelumnya telah membantunya.. Setidaknya hal ini berlaku dalam kehidupan saya..

Seperti biasa, saya akan membahasnya dengan teori ngawur Rini Bee ya.. 😀

 

Seperti judul postingan di atas.. belajar menjadi orang baik, maka orang-orang baik akan berada di sekitarmu. Mengapa bisa demikian?

Berdasarkan teori Rini Bee yang belum teruji kebenarannya.. Dengan selalu berbuat baik, termasuk berpikir positif, maka kita melihat segala sesuatu dari kaca mata yang positif juga. Kita melihat orang lain selalu baik, terlepas dari niat sebenarnya dari orang tersebut (siapa pula yang bisa melihat niat dalam diri orang lain khan? :D). Nah, dengan berpikir positif kita diajak untuk selalu berprasangka baik. Prasangka baik inilah yang membuat kita memiliki perasaan ikhlas dalam melakukan sesuatu. Berbuat baik ya berbuat baik saja. Ngga peduli ada balasan ato ngga.. Dengan demikian, kita pun terhindar dari berburuk sangka pada orang lain..

Dengan berbaik sangka, kita melihat orang lain dari sisi terbaik dirinya. Bukankah seseorang itu terdiri dari 2 sisi dalam dirinya…? Bahkan dalam diri seorang penjahat pun pasti ada sisi baiknya khan…? Setidaknya itu yang saya yakini sampai sekarang..

Penjahat ngga selalu penjahat jika ternyata alasan dia menusuk seseorang itu pada awalnya sebenarnya untuk melindungi anak dan istrinya yang diganggu oleh sekawanan berandalan.. Yang diketahui orang lain hanyalah bahwa dia kriminal.. tahanan.. orang yang menusuk seseorang yang membuat orang yang ditusuknya terjatuh bersimbah darah.. Orang-orang itu pun menghakiminya, tanpa berusaha melihat alasan di balik tindakannya..

***

 

Kembali pada teori lingkaran kebaikan.. Saya akan memberikan contohnya melalui sebuah cerita..

Suatu hari mama saya bercerita tentang nenek saya. Saat itu nenek saya berpesan kepada mama saya, untuk selalu ikhlas dalam melakukan kebaikan. Seandainya kita mampu menolong, jangan ragu-ragu untuk menolong.. Karena meskipun bantuan kita itu tidak seberapa, tapi sangat berarti untuk yang kita tolong..

 

Singkat cerita di suatu hari, mama saya sangat membutuhkan bantuan. Tidak ada seorang pun yang menolongnya hingga di detik-detik terakhir tiba-tiba saja bantuan itu datang tanpa diduga-duga. Hal itu tidak hanya sekali dua kali terjadi dalam diri mama saya. Lalu saya pun mencoba mengingat-ingat dalam pengalaman saya sendiri.. Dan ketika saya flash back, ternyata hal seperti itu juga seringkali terjadi dalam diri saya. Ketika saya menceritakannya pada mama, mama saya pun berkata..

 

“Itulah sebabnya mama bilang kalau kita mau menolong seseorang, menolonglah dengan ikhlas. Sama seperti adik, mama juga pas butuh bantuan tanpa diduga-duga selalu adaa.. saja yang menolong.. dan mama pun teringat pesan dari Yang yut (buyut saya) dan Mbah putri (nenek saya).. Mama pun berpikir, mungkin ini semua (datangnya bantuan tak terduga-duga saat kita membutuhkan bantuan) karena jauh sebelumnya.. di masa yang lalu.. Yang Yut atau mbah putri atau justru mbah mbah yang lebih tua itu yang pernah menolong orang lain, sehingga sekarang lingkaran kebaikannya bisa kita rasakan. Makanya, kalau kita sekarang menolong seseorang, mungkin bukan kita yang merasakan kebaikan orang tersebut.. tapi anak cucu kita.. Seperti kita saat ini.. saat kita membutuhkan pertolongan, ada saja yang menolong dan membantu kita..”

 

Saya selalu ingat nasehat mama saya itu.. dan saya juga mencoba untuk menerapkannya dalam kehidupan saya sehari-hari.. Jadi, seandainya bantuan itu tidak kembali pada saya.. semoga bisa dirasakan Syifa, atau justru anak cucu saya nanti di masa yang akan datang… Atau mungkin lingkaran kebaikannya justru ke atas.. ke bapak mama saya dan mungkin ke nenek saya.. Atau bahkan ke orang-orang di sekitar saya.. 🙂

 

Terkadang memberikan bantuan itu ngga hanya sekedar pada orang yang mengatakan “tolong” pada kita.. karena sebenarnya orang-orang yang membutuhkan bantuan itu adalah orang yang bahkan tidak pernah bisa berkata tolong saya..

Jadi, mulailah melihat dengan lebih peka, dengan lebih dekat.. Melihat dengan hati.. karena ada sebuah kata yang terkadang sulit untuk diucapkan.. Kata itu adalah..

 

tolong saya..

 

 

Pesan moral:

Kalau memang kita bisa membantu orang lain.. Jangan pernah ragu untuk melakukannya.. 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s