Satu hari yang takkan terlupakan..


station

Hari itu adalah hari yang akan kuingat seumur hidupku.. Hari perjumpaanku dengan mas Ryan..

Siang itu mas Ryan membawaku ke sebuah tempat makan yang terkenal dengan menu ayam gorengnya.. Ia tahu aku sangat menyukai ayam goreng.. Kemudian kami berjalan-jalan menyusuri  jalan-jalan ibukota..

“Maap ya dik.. Aku belom sempat mengunjungi kamu di Yogya.. Padahal deket ya..?” suaranya terdengar pelan.. Seakan terasa beban berat ada di pundaknya..

“Ya ndak apa apa tho mas.. Kebetulan adik juga ada urusan di Bandung.. sekalian mampir ke Jakarta.. Nanti sore balik ke Surabaya.. ke rumah simbah..” jawabku berusaha membuat absennya ia selama beberapa bulan terakhir bukanlah masalah besar untukku..

Mas Ryan terdiam.. Selesai makan ia memutuskan untuk mengajakku mengitari kota tua menikmati keindahannya dan mengambil foto melalui kamera handphoneku.. Saat kami beristirahat di dekat kedai minum ia mengeluarkan sebuah gelang dari saku kemejanya.. lalu menyerahkannya padaku.. Gelang mungil.. sederhana namun berarti bagiku..

Tak lama hujan deras turun tiba-tiba.. Aku dan mas Ryan berteduh di sebuah kedai kopi tak jauh dari kota tua.. Tapi hujan siang itu sukses membuatku menggigil kedinginan karena sebagian besar tubuhku basah oleh air hujan.. Kami berdua tidak menggunakan jaket.. Tak ada jaket hangat menutupi badanku yang kedinginan.. Namun dengan caranya sendiri Mas Ryan mendekapku erat tepat di bahuku sambil mengusapnya pelan.. Rasa hangat kembali mengaliri relung hatiku.. dan aku merasa lebih baik.. 🙂

 

Begitulah.. sepanjang hari itu ia membuatku menjadi perempuan yang paling bahagia.. Hingga waktupun berputar semakin cepat.. dan kini kami sedang duduk menanti kereta Bima yang akan membawaku ke kota pahlawan.. Sebelum kereta yang membawaku pergi meninggalkan ibukota.. aku berpamitan pada mas Ryan.. Lalu aku mendekatkan tanganku memberi salam hormat padanya.. Tanpa kuduga.. sesaat kemudian mas Ryan mendekatkan bibirnya ke tanganku dan mengecupnya lembut.. membuatku merasa bahwa aku adalah salah seorang putri dalam cerita-cerita negeri dongeng.. 😛

Aku tersipu.. dan mas Ryan hanya tersenyum simpul.. 😀

Paginya aku sampai di kota pahlawan.. sejak pulang dari Jakarta aku jatuh sakit.. mungkin karena sebelumnya aku menggigil kehujanan..

***

Aku merahasiakan perjumpaanku dengan mas Ryan pada ibuku.. Aku tak ingin beliau khawatir karena aku tidak mengatakan sama sekali tentang kepergianku ke Jakarta.. Yang ibu tahu aku mengunjungi Maya di Bandung dalam rangka penyelesaian tugas akhirku..

 

Dua bulan aku merahasiakannya.. Juga tentang hubunganku dengan mas Ryan.. Namun aku merasa bersalah.. Ibu harus tahu tentang hubunganku dengan mas Ryan.. Karena aku tak ingin membohongi ibu lebih lama lagi.. Kuputuskan aku akan mengatakan semuanya pada ibu.. Bagaimanapun juga ibu harus tahu..

***

Pagi itu, aku menemani ibu menyiram halaman belakang kebun bunga ibu sementara ibu menggunting daun2 yang mengering di setiap kuntum mawarnya.. Aku membuka pembicaraan..

“Ibu.. masih ingat mas Ryan?”

“Ryan sopo?” (Ryan siapa?)

“Putranya bu lik Lastri.. Yang sekarang di Jakarta itu..”

Ibu terdiam.. tapi mengangguk.. dan akupun melanjutkan.. “Beberapa bulan terakhir ini Ratih dekat sama mas Ryan bu.. Kemarin waktu Ratih ke Bandung.. Ratih ketemuan sama mas Ryan di Jakarta.. Lalu baru pulang dari Jakarta ke Surabaya sorenya.. Ratih minta maaf ya bu.. Baru ngaku sama ibu sekarang.. Tapi Ratih ngga ngapa-ngapain kok Bu..”. Aku terdiam.. Ibu masih saja diam.. mungkin marah karena aku membohonginya selama ini..

 

Aku pun memberanikan diri mengajak ibu bicara.. Tak biasanya ibu begini..

“Bu…? Kok diam saja? Ratih menyesal bu.. ngga terus terang sejak awal..” aku mendekat ke arah ibu.. Mencoba berbicara langsung berhadapan dengan beliau..

Wajah ibu pucat pasi.. dan aku menjadi semakin merasa bersalah.. Tak lama terdengar suaranya..

“Mas Ryan putranya bu lik Lastri? Kamu pacaran dengannya…?” tanya ibu hati hati..

“Iya bu..”

Ibu menatap mataku dengan pandangan yang tak kupahami maksudnya.. sepertinya mencari kebenaran dalam ucapanku.. “Kamu bertemu dengannya 2 bulan yang lalu?” ibu kembali bertanya..

Aku mengangguk..

“Tapi Ratih.. Ryan meninggal hampir 3 bulan yang lalu.. kecelakaan di lintasan kereta api.. Mobil yang ditumpanginya remnya blong.. dan kamu baru saja siuman setelah koma selama 2 minggu sayang..”

 

 

Aku shock mendengarnya dan akupun terseret kembali pada ingatan 2 bulan yang lalu.. Ya.. tentang mas Ryan yang menjemputku.. Lalu tentang semua perlakuan manis yang kuterima sepanjang hari itu.. Aku masih tidak percaya…

 

Malamnya.. Aku terdiam.. Lalu aku menelpon Maya meminta penjelasan.. Setidaknya Maya yang paling tahu bahwa aku ke Jakarta menemui Mas Ryan.. Maya harus tahu ini..

Berbicara dengan Maya tidak membuatku merasa lebih baik.. Aku benar2 seperti kehilangan ingatanku.. Malam itu aku tidak bisa tidur.. Masih kuingat jelas kata2 Maya di telingaku..

 

“Ratih.. kamu memang ke Jakarta.. Tapi kamu tidak menemui mas Ryan.. Ia sama sekali tidak datang.. Kamu menunggunya seharian sampai kamu kehujanan.. Sesampainya di Surabaya kamu sakit parah.. Kamu menelpon ke kost Ryan di Jakarta dan mendapat kabar kalau ia meninggal dunia seminggu sebelumnya.. kamu shock dan koma selama 2 minggu..”

 

Aku hampir tak percaya.. Semuanya seperti mimpi.. Aku membuka handphoneku dan mencari foto yang kubuat bersama mas Ryan di kota tua.. Tak ada foto dirinya.. Hanya ada aku sendirian.. aku memutar otak dan masih terngiang jelas di telingaku setiap kenangan bersama mas Ryan.. Tentang dekapan lembutnya di bahuku, tentang ciuman lembutnya di tanganku… tentang semuanya… dan sebulir air mata terasa hangat mengalir di pipiku.. Lalu terjatuh di tanganku.. Tangan yang dulu pernah terasa hangat oleh kecupan mas Ryan hingga aku baru menyadari.. Di pergelangan tanganku.. benda mungil itu terlihat.. sebuah gelang mungil yang tak pernah kusadari keberadaannya.. gelang yang menyaksikan segalanya.. bahwa selama ini aku memang tidak bermimpi.. Masih teringat jelas dalam ingatanku.. Gelang itu adalah.. gelang pemberian dari mas Ryan…

 

 

*meskipun mereka bilang aku tidak pernah menemui mas Ryan hari itu.. aku yakin.. ia menemuiku.. dan kami memang menghabiskan waktu bersama.. meski tak seorangpun tahu..

Iklan

Satu pemikiran pada “Satu hari yang takkan terlupakan..

  1. Whew… *ngusap wajah*

    Iya, sama. Tentang bertemu dengan seseorang yang hanya kita yang bisa liat.
    Tapi diceritaku yang “KEMARIN”, pertemuan itu terjadi saat Revan koma.

    Bagus, QB 😀
    Eh, itu elipsis yah?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s