Perjumpaan..


kereta

Sekitar pukul sebelas kereta api yang membawaku dari stasiun Bandung merapat di stasiun Jatinegara.. Aku mengambil handphone di tas punggungku dan mulai menghubungi nomor telepon yang sudah kuhafal tanpa harus mencarinya di deretan nama-nama yang kusimpan di handphoneku..

Sebuah suara menjawab teleponku..

“Mas, saya sudah sampai..” aku berkata dan ia memintaku menunggu karena ia sedang terjebak macet.. Aku memilih menunggunya sambil membaca buku Harry Potter yang baru separuh halaman kuselesaikan hingga sebuah suara renyah yang selama ini hanya kudengar melalui handphoneku menyapaku lembut..

“Assalamu alaikum..”

Dan aku menjawabnya sambil tak henti-hentinya menyunggingkan senyum.. Ya.. kini aku melihatnya langsung di depan mataku.. Wajahnya masih sama seperti terakhir kali aku menatapnya.. Tapi aku tidak pernah menyangka bahwa ia terlihat sangat tinggi ketika aku berjalan beriringan dengannya.. Akhirnya.. aku bisa menatapnya.. Ya.. mas Ryan yang 4 bulan yang lalu resmi menjadi penjaga hatiku meskipun aku sudah mengenalnya bertahun tahun sebelumnya..

“Berangkat sekarang?” katanya menggodaku karena kami hanya terdiam beberapa saat tanpa berkata apa-apa lagi setelah sebelumnya saling berbalas salam. Ah.. aku merasa pipiku merona merah karena ia memergokiku yang terlihat terpukau menatapnya.. 😛

 

Aku melirik ke kanan dan membandingkan tubuhnya dengan tubuhku.. Ternyata kepalaku tepat berada di sisi telinga kirinya.. Aku masih belum percaya pria yang semasa aku berseragam putih biru sudah mengisi hatiku kini benar-benar menjadi kekasihku.. Ya.. aku menjadi pengagum rahasianya selama bertahun-tahun.. Sejak aku mulai melihatnya menjadi pagar bagus pada pernikahan kakak sepupunya..

 

“Tadi dari Bandung diantar siapa?”

“Sama Maya.. tadinya Maya mau aku ajak.. Tapi katanya ngga mau jadi obat nyamuk..” aku menjawabnya dengan suara pelan..

“Ah ya.. untung Maya pengertian ya..” goda Mas Ryan lagi sebelum akhirnya membuatku terpaksa mengulurkan tangan mencubit pinggangnya.. Ia menyentuh tangan kananku dengan tangan kirinya lalu berkata perlahan.. “daripada nyubit.. enakan nggandeng tho?” dan aku hanya terdiam tersipu.. Tepat sedetik setelah ia menggandeng lembut tanganku yang membuat sebuah rasa hangat menjalari tanganku dan memberikan sensasi rasa hangat yang menjalar sampai di relung hatiku sekaligus degup jantung yang berdebar semakin cepat..

 

 

 

Dan tiba-tiba saja aku merasa seakan kakiku tidak berpijak di bumi..

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Perjumpaan..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s