Saya belajar darimu..


koran

Hari itu sangat terik sekali.. Bandung cerah.. matahari bersinar terang.. Waktu yang tepat buat jalan-jalan.. Saya dan belahan jiwa saya serta si mungil memutuskan untuk jalan-jalan menikmati indahnya kota kembang. Kemana? Bukan masalah kemana khan ya? Tapi dengan siapa.. *ehem.. :P*

 

Ya.. begitulah..

Kami duduk untuk makan soto ayam di sebuah warung di pinggir jalan.. Warung ini sangat rame saat siang seperti ini.. mungkin karena masakannya yang lezat atau karena bertepatan dengan jam makan siang..? entahlah.. Tapi kali ini saya ngga mau cerita tentang soto ayam ini.. Saya mau cerita tentang.. dia..

 

Mau dengar kisahnya?

 

Pasangan muda dan seorang bayi mungil terlihat duduk di pinggir sebuah jalan.. menanti pesanan soto ayam. Hari itu Bandung cerah.. matahari terlihat sangat terik.. Di sekitar lampu merah nampak beberapa pengamen jalanan berlomba-lomba memainkan musik khas mereka masing-masing berpadu dengan suara sang pengamen.. Ada yang bergaya ala Charlie ST 12 lengkap dengan potongan dan gaya rambut, gitar, baju dan celana, bahkan juga anting hitam gede di telinganya.. Lagunya? Ya Lagunya ST 12.. πŸ˜€

 

Pandangan saya beralih ke seorang anak kecil berusia sekitar 10 tahun.. Ia membawa setumpuk koran di dadanya.. menjajakan korannya  dari satu kendaraan ke kendaraan yang lain.. dengan tersenyum.. entah sang pemilik kendaraan membelinya atau menolaknya.. Meski jarak pandang antara warung soto dengan lampu merah tidak terlalu dekat.. namun senyuman itu masih terlihat..

Lampu merah berganti hijau.. dan kendaraan pun melaju perlahan.. Anak-anak yang akrab dengan jalanan itu pun merapat ke trotoar.. Menghitung hasil yang mereka dapat sesaat sebelumnya.. Tawa renyah.. menghapus segala lelah..

 

Tak lama.. langit Bandung pun mulai menghitam.. Langit cerah berganti awan berwarna gelap.. Hujan pun turun.. Si anak penjaja koran itu buru-buru memasukkan koran ke dalam bajunya.. Tidak memperdulikan badannya yang mulai basah oleh rintik-rintik hujan.. Setelah ia yakin tak ada celah yang dapat membasahi korannya ia pun berjalan mencari tempat untuk berteduh.. Tangannya didekapkan di depan dadanya.. melindungi koran-korannya bagaikan barang yang berharga.. Tak peduli air hujan telah membasahi baju dan punggungnya..

 

Di tempatnya berteduh kini.. kepala serta badannya basah kuyup karena hujan.. Tapi ia tetap tersenyum.. Demikian berartinya koran yang menjadi tanggung jawabnyaitu.. karena ketika koran itu basah.. Ia tidak akan dapat menjualnya lagi.. Walaupun mungkin hanya sedikit yang ia dapat dari menjual 1 buah koran.. 500 rupiah ato 1000 rupiah? Entahlah..

 

Senyuman itu masih terlihat meski badan basah karena hujan.. Rasa dingin mungkin tak dirasakannya.. Entah berapa lama lagi ia harus berdiri di pinggir trotoar untuk menanti koran di tangannya habis terjual.. Sampai sore hari? Atau justru malam hari?

Entahlah… yang saya tahu.. Ia bertanggungjawab menjaga koran itu untuk tetap dalam kondisi baik dalam cuaca panas atau hujan.. :). Dan saya juga tahu, ia ikhlas mengerjakannya.. terlihat dari senyum tulusnya meski panas terik matahari ataupun hujan sekalipun..

Melihatnya tersenyum membuat saya pun ikut tersenyum..

 

 

Wahai anak kecil penjual koran berbaju merah.. Terima kasih telah mengajarkan pada saya hari ini tentang keikhlasan, ketulusan dan mencintai kehidupan… πŸ™‚

Dan saya juga belajar darimu tentang arti mensyukuri nikmat… πŸ™‚

 

Iklan

4 pemikiran pada “Saya belajar darimu..

  1. mengamankan pertamax…..
    kita memang ga selalu belajar dari buku, dari pengalama kita sendiri tapi ternyata dari org lainpun (tentunya tidak memandang usia,suku, kedudukan ekonomi,dll) membuat kita menjadi sadar akan siapa diri kita dan mau untuk belajar dalam hidup…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s