Di ujung jalan itu..


hasan

Aku mengikat rambut sebahuku dengan pita berwarna biru.. Kubiarkan begitu saja.. Tak perlu riasan.. dan tak perlu pemerah bibir.. Sekali lagi kutatap tampilanku di cermin.. Aku siap.. saat kupastikan bahwa tampilanku tidak berlebihan..

 

Kalau emak yang saat ini ada di depan cermin.. emak pasti akan mengangkat ke atas rambutnya.. rambutnya yang hitam lebat.. yang panjangnya sepinggang.. Emak akan menyembunyikan rambut indahnya dan membuatnya tampil sederhana dalam sebuah konde mungil.. Kata emak.. rambut panjang nan indahnya hanya diperuntukkan buat bapak.. Hanya buat bapak.. bukan buat mereka yang ada di luar sana..

 

Aku melihat jam di ruangan tengah.. pukul 06.03. Akupun melangkahkan kaki menuju teras rumah.. Kutatap ia yang sudah menungguku sedari tadi.. dan aku menggendongnya di punggungku.. sedangkan tangan kiriku menyambar telinga yang lain..

Di sepanjang jalan mereka menatapku.. Katanya.. aku mirip emakku.. Emak yang namanya sudah tersohor ke seluruh penjuru desa.. Emak yang cantik.. yang terlihat awet muda.. Katanya.. aku dan emak bagaikan kakak beradik..

 

Aku mencintai emak.. Emak yang mengajarkanku menjadi perempuan yang sejati.. Bagaimana seorang perempuan seharusnya bersikap.. Tetap mendampingi sang pria dengan lemah lembut namun tak berarti menjadi lemah.. Perempuan harus kuat, juga harus bisa merawat dirinya..

 

Emak perempuan hebat.. Tidak menelantarkan keluarga tapi juga bisa membantu bapak memperoleh penghasilan tambahan, dengan kemampuannya dan dengan keahliannya.. Emak memang primadona.. Kembang desa Dadapan.. Sebelum menikah dengan bapak, tuan tanah hendak memperistrinya.. Tapi emak menolak karena tidak ingin menjadi penghancur rumah tangga laki-laki beristri 3 dan memiliki 7 orang anak itu..

Bagi emak, harta bukanlah segalanya… Emak lebih memilih bapak, guru SD dengan gaji secukupnya dan menyambi menjadi guru ngaji ba’da ashar di langgar yang bersebelahan dengan rumah kami.. Aku bangga dengan kedua orang tuaku.. Kesederhanaan mereka membuatku bersyukur..

***

 

Emak terbujur lemah.. Badannya menggigil sejak dua hari yang lalu.. Mungkin emak terlalu lelah.. Bekerja keras mengurus segalanya sendirian.. Saatnya aku menggantikan beban di pundaknya.. Kebetulan aku masuk siang.. dan akupun memutuskan untuk menyusuri jalan2 yang biasa dilaluinya.. merasakan apa yang dirasakannya..

 

Baru sekitar 2 jam aku menyusuri jalan.. Tapi beban di punggungku ini terasa sangat berat.. Aku mengusap peluh di dahiku.. dan tetap berjalan menyusuri sepanjang jalan yang juga dilalui ibuku.. Jalan ini sepi sekali.. Tak ada seorang pun di sini.. aku memutuskan beristirahat di pinggir sebuah jalan dan duduk di atas sebuah batu besar.. Memijat kakiku yang terasa pegal.. Sepi sekalii…

 

Tak lama seorang pria berperawakan tinggi besar mendekat.. Lalu melihatku dari atas kepala hingga ke ujung kaki.. Aku terdiam.. dalam hati berpikir.. Siapakah dia..? Apa dia salah satu langganan emak.. Ia tidak berkata apa2.. Hanya menunjuk sebuah bungkusan plastik hitam yang kuletakkan di atas bakul yang beberapa saat yang lalu kubawa di atas punggungku. Ia menunjuk sebuah gambar seorang pria yang memegang pinggangnya dengan wajah kesakitan..

 

Aku segera menyobek bungkusan sebesar KTP itu lalu mengaduknya dengan sedikit air hangat, mencampurnya dengan madu lalu menyerahkan pada pria di hadapanku.. Ia meminumnya dalam 5 kali tegukan lalu menjulurkan gelas ke hadapanku yang kemudian kutuangkan campuran jahe dan gula merah.. Ia bertanya dengan suara datar..

“Berapa?”

Dan aku pun menjawabnya.. “Dua ribu rupiah..”

Ia menyerahkan selembar uang kertas berwarna abu2.. saat aku menerima uang itu, ia menggenggam tanganku erat.. Aku ketakutan.. Dan ia tersenyum memamerkan deretan gigi berantakannya yang berwarna kehitaman.. Aku semakin ketakutan.. Aku menyembunyikan rasa takutku dan berkata dengan suara lantang.. “Lepaskan saya..” Tapi ia justru semakin keras menggenggam tanganku.. Aku meronta dan hendak melepaskan diri.. Sedetik kemudian tangan kirinya menyentuh bahuku.. Aku semakin keras meronta.. Lalu sebuah kekuatan muncul di benakku.. Aku berteriak keras….

 

 

“Tolooooong….”

“berteriaklah anak manis.. tidak akan ada yang mendengar..”

Aku menjerit semakin keras.. Lalu aku memutuskan untuk menendang pria kekar dan tambun di hadapanku.. Tapi ia terlalu besar untuk kukalahkan sendirian.. Aku hampir putus asa.. hingga kudengar sayup-sayup suara seseorang dari kejauhan…

 

“Lepaskan ia..” kami berdua sedikit terkejut.. tak mengira akan kehadiran orang ketiga di jalan sepi ini.. Aku menoleh ke arah suara itu berasal.. Suara seseorang yang kuharapkan menjadi pahlawanku..

 

 

<del>Pria kurus di ujung gang dengan tatapan sedikit ragu2 itupun menoleh pada seorang perempuan yang tengah menulis di depan laptop *maksudnya mba penulis.. :D*

 

“mba.. mba.. saya keluar sekarang khan ya..? Trus.. sekarang saya harus ngapain?”

Mba penulis menoleh ke arah suara dan berkata dengan gemas..

“Iyaaaaa Hasaaaannn… Kamu keluar sekarang…!!” *jambak2 rambut.. <imgsrc=http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/109.gif> <imgsrc=http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/102.gif>*

“..tapi mba.. saya… saya lupa adegannya..” <imgsrc=http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/17.gif> <imgsrc=http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/42.gif> <imgsrc=http://l.yimg.com/us.yimg.com/i/mesg/emoticons7/114.gif> </del>

 

..dan ceritapun terpaksa bersambung.. 😀

 

 

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Di ujung jalan itu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s