Kedai kopi.. oh.. kedai kopi..


kafe

 

“Mungkin memang terlihat tidak masuk akal.. Tapi inilah yang saya rasakan.. dan saya juga tidak tahu keberanian dari mana sehingga saya bisa memberanikan diri berbicara tentang ini semua sama mba.. Apakah mba mau memberi saya kesempatan?”

 

Hilang semua rasa gundah di hati Hasan, tiba waktunya ia mendengar kata-kata jawaban dari mulut Ara.. Baru saja Ara akan menjawab.. Terdengar bunyi handphone milik Ara..

 

Aaargghh!!! [-(

 

 

***

 

Hasan memutuskan menunggu sambil menundukkan kepalanya.. mata coklatnya jatuh tepat pada secangkir kopi Arabica milik Ara yang tinggal setengahnya, serta novel Sang Alkemis yang dibiarkan terbalik begitu saja saat Ara memohon diri menerima telepon di luar kedai kopi..

 

Tak lama Ara kembali masuk ke dalam kedai kopi.. Saatnya ia memberikan jawaban.. Hasan mengangkat kepalanya dan memberikan senyum termanisnya.. 3 menit terlalu lama untuk melepaskan pandangan pada gadis semanis Ara.. Baru saja ia menoleh.. matanya menangkap sesosok pria berkacamata oval yang menggendong seorang bocah yang tertidur di bahunya, berjalan beriringan dengan si perempuan manis berbaju gamis..

 

“Mas…?” Ara mengucapkan kata dengan nada bertanya..

 

“Hasan..” dan ia baru menyadari bahkan ia belum menyebutkan namanya dan menanyakan nama perempuan manis tersebut..

 

“Ah ya mas Hasan.. ini suami saya.. Abi, ini mas Hasan..” dan Hasan pun membalas jabat tangan suami Ara dengan senyum yang dipaksakan..

 

Tiba-tiba.. Perempuan di depannya yang bersanding dengan lelaki berkacamata oval ini tidak lagi terlihat manis.. *catatan penulis: asline mas Hasan nesu iki.. :P*. Tak lama sepasang suami istri dan bocah mungil itu beranjak dari tempat mereka duduk, berpamitan pada Hasan yang terlihat terpukul..

 

 

 

Setelah mereka meninggalkan cafe, Hasan cepat-cepat berdiri dan segera melangkahkan kaki meninggalkan kedai kopi untuk melupakan hal memalukan yang baru saja dialaminya… tak henti-hentinya ia merutuk dirinya sendiri ketika mengingat-ingat kejadian tadi.. Tak lama hujan turun dengan derasnya…

 

 

“sempurna!!” rutuk Hasan dalam hati..

 

Ia tidak menghentikan langkahnya justru semakin mempercepat langkahnya.. berharap bisa sampai di ujung jalan untuk sekedar berteduh.. Di persimpangan jalan langkahnya terhenti saat menabrak seseorang bermantel tebal.. dan ia pun jatuh tersungkur.. di atas jalan yang basah.. Badannya basah kuyup..

 

Mati-matian ia berusaha untuk meredakan amarahnya.. Berharap tidak satu pun kata makian terlontar dari mulutnya.. Ia merutuk.. lagi-lagi dalam hati.. tapi ternyata ia bergumam.. tapi suaranya tertelan deras hujan..

 

“Kalau saja bukan orang tua.. pasti saya…”

 

Sebuah tangan terulur membantunya bangkit.. dan terdengar sebuah suara..

 

“Maapkan saya.. saya terburu2.. Mas ngga apa2..?” suara yang menyaingi suara derasnya hujan..

 

Tapi di telinga Hasan, suara itu terdengar begitu indah.. saat tangan Hasan menyentuh tangan itu.. sesuatu yang hangat menjalar di dalam dadanya.. dan menghangatkan hatinya..

 

Hasan bangkit dan tidak melepaskan pandangannya pada gadis elok di hadapannya.. Ia terlihat kesakitan… sambil meletakkan tangan di depan dadanya ia berkata pelan menjawab pertanyaan yang baru saja dilontarkan..

 

 

 

 

 

 

 

 

“Saya rasa.. ada yang salah dengan dada saya.. ini di ulu hati saya.. ato justru di jantung saya.. mungkin karena tabrakan yang cukup keras tadi… Anda harus bertanggung jawab..

 

 

 

 

karena sekarang.. jantung saya berdebar lebih cepat dari sebelumnya…”

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s