Aku memandang wajahku di cermin.. Sebentar lagi aku akan siap.. Aku memoleskan lipstick untuk menyempurnakan penampilanku.. sekaligus menjadi tanda bahwa aku sudah siap menemui mereka..

Pintu kamar diketuk.. penanda bahwa aku sudah ditunggu.. Ya.. mereka semua menungguku.. dan mereka semua menyanjungku.. Aku bisa mengetahuinya dari cara mereka memandangku.. cara mereka tersenyum padaku.. dan cara mereka melihat penampilanku..

Ini bukan kisah cinta.. ini hanyalah kisah anak manusia…

 

Aku anak sulung dari sembilan bersaudara.. Ayahku adalah seorang dalang termasyur di kota kami.. Itu dulu.. sebelum akhirnya seorang lintah darat menghancurkan segalanya.. Ayahku bangkrut dan tak menyisakan apa-apa kecuali sakit stroke yang menyerangnya dan membuat kami bagaikan sebuah rumah yang kehilangan pondasinya.. Ya.. kami ambruk.. kami sempoyongan.. tapi tidak harga diri kami..

Ibuku seorang sinden yang ternama.. Sejak ayah ambruk dan ditinggalkan pemain-pemainnya ibuku memilih mundur untuk merawatnya.. dan perlahan kami harus menghadapi kenyataan.. Segala kemewahan itu menguap demi membayar hutang pada lintah darat penghisap kebahagiaan..

Aku si anak sulung.. dan aku tahu aku tak bisa berdiam diri saja.. Aku memutuskan untuk berhenti sekolah dan bekerja untuk membiayai sekolah adik-adikku..

***

 

Pintu kamar diketuk sekali lagi.. Kali ini lebih keras.. dan itu cukup membawaku kembali ke tempat dimana aku berpijak saat ini.. Ya.. mereka telah menungguku.. aku tak boleh membiarkan mereka menunggu lebih lama lagi..

Kubuka perlahan pintu kamar.. tampak beberapa perempuan lain dengan dandanan khas mereka masing-masing tersenyum saat berpapasan denganku.. Mereka sama denganku.. mereka senasib seperti aku.. dan kami pun berjalan beriringan untuk menemui para pengagum kami di luar sana…

Tirai perlahan dibuka.. dan tampak olehku beberapa pria berkumpul menatap ke arah kami.. Mereka semua memandang kami.. dari atas kepala sampai ke ujung mata kaki.. Aku merasa risih.. aku merasa jengah.. Jantungku berdebar keras.. Dalam hati aku berdoa.. semoga semuanya akan baik-baik saja…

Selama sekitar dua jam aku berada di sana.. dengan semua pikiran tercurah pada kalian.. pada Damar pria yang penyabar, pada Denok gadis manis bermata elok, pada Mayang.. gadis penyayang… juga Catur.. laki-laki berbudi luhur..

Aku berputar menyamakan gerakan dengan yang lain.. dan aku kembali memikirkan mereka.. pada Anita gadis manis yang cantik jelita, pada binar mata milik Sekar, pada sorot mata sayu milik Bayu, dan terhenti saat terdengar suara bariton yang mengingatkanku pada si bungsu Anton..

Ya.. aku memikirkan mereka.. memikirkan ke delapan saudaraku.. Untuk inilah aku melakukan ini semua.. untuk kalian.. karena aku mencintai kalian semua…

Ini bukan kisah cinta.. ini hanyalah kisah anak manusia…

 

Seorang pria dipasangkan denganku.. dan aku pun tersenyum kepadanya.. senyum palsu.. dan aku memalingkan wajahku saat mata merahnya menatapku.. Ia pasti sedang mabuk.. Aku tak mau mengambil resiko.. Aku menatap sayu pada pria bersuara bariton tadi.. Berharap ia menggantinya dengan pria yang lain..

Aku kembali melanjutkan aksiku.. dan saat aku berbalik.. Pria kurus dengan mata nakal memandangku.. Aku tidak memberikannya senyum.. Biarkan saja ia menari-nari dengan pikiran nakalnya.. Asal ia tidak menyentuhku..

Ini bukan kisah cinta.. ini hanyalah kisah anak manusia…

 

Pertunjukan pun selesai.. dan aku pun masuk kembali ke kamarku.. dengan peluh membasahi tubuhku.. Pria bermata merah itu mengikutiku.. Tangan kekarnya membekap mulutku.. Nafasku memburu dan air mata mulai membasahi pipiku.. merusak riasan wajahku.. Aku berteriak minta tolong,… tapi tak seorang pun menolongku.. Secepat kilat mataku menatap botor bir di sisi meja.. kuraih dan kupukulkan pada kepala botaknya sebelum ia menyadarinya.. Ia jatuh tersungkur dan aku berlari secepatnya..

Kukunci kamarku.. dan aku menangis … teringat kebahagiaanku yang menguap satu per satu…

Jangan pandang aku sebelah mata.. dan jangan bilang ini bukan pekerjaan mulia.. Pernahkan kalian berpikir.. bahwa aku terpaksa melakukannya..??

Aku mungkin memang penghibur.. Tapi jangan pernah samakan aku dengan pelacur..

–selesai–

*sebuah kisah tentang seorang penari, dipersembahkan untuk meramaikan Agustus di Ceritaeka πŸ™‚

Iklan

11 pemikiran pada “Kebahagiaan yang menguap…

  1. sedih banget mbak ceritanya T__T
    aku kadang suka liat penari kek gini dipinggir jalan. sambil nari dipepetin sama mas-mas. hiks… mgkn di dalam hatinya dia mikir kek di tulisan ini.

    eh, akhirnya nemu blog mbak rini, aku cari di FB gak dapet soalnya :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s