Mak Asih..


Perempuan separuh baya itu berjalan menyusuri gang kecil menuju ke jalan raya.. Kacamata hitam menempel di kedua bola matanya… Di tepi jalan besar ia berbicara pada seorang tukang becak langganannya dan menyebutkan nama tempat.. Tak lama.. mereka pun berlalu..

Sampai di tempat tujuan.. Ia mengucapkan salam.. Seorang perempuan muda menyambutnya.. lalu merangkulnya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.. Sambil berjalan beriringan mereka tampak asyik mengobrol dan sesekali tertawa..

Tiba di dalam rumah, sang perempuan berkacamata disambut kembali oleh seorang perempuan yang kurang lebih sama usianya dengannya.. keakraban nampak di rumah itu.. Mereka berbicara dengan akrab satu dan yang lainnya… Tak lama, perempuan berkacamata hitam itu digandeng masuk ke dalam kamar dengan minyak zaitun di tangan kanan serta minyak kayu putih di tangan yang lain…

Namanya mak Asih.. Perempuan penyabar yang disukai orang-orang.. Kedua bola matanya tidak lagi sempurna saat ia mengalami kecelakaan saat atap rumahnya bergeser dan menimpa kedua bola matanya.. Sejak saat itu pandangannya kabur dan ia tak lagi dapat melihat dengan sempurna..

Mak Asih hidup sebatang kara.. suaminya telah lebih dahulu meninggalkannya tanpa seorang anak.. Ia hidup dengan keponakan laki-lakinya yang bagaikan benalu.. Mengambil paksa uang yang diperolehnya dengan susah payah menjadi tukang pijit..

“Mak sudah tidak ada saudara lagi?”
“Suami mak sudah meninggal.. mak juga ga punya anak.. Ada mertua mak.. tapi di Kediri..”
“Kenapa mak ga tinggal sama mertua mak saja?”

“Saya ndak bisa melihat dengan jelas.. saya ngga mau merepotkan siapa2.. Biarlah saya di sini.. bekerja untuk menghidupi diri saya sendiri.. Yang penting halal dan tidak mengemis.. Seandainya saya bisa melihat dengan jelas.. Saya mau jadi pembantu di rumah neng Lia.. Tapi sayangnya saya ngga bisa melihat dengan jelas..”

Itulah Mak Asih.. perempuan tegar yang tidak pasrah begitu saja dengan nasibnya.. Dengan keterbatasan penglihatannya ia tetap bertekad mencari nafkah untuk dapat bertahan hidup asal halal dan tidak mengemis..

Mak  Asih berjalan menuju pangkalan becak langganannya di pinggir jalan.. Seorang pria tanggung yang masih terlihat segar bugar berdandan compang-camping menengadahkan tangan meminta belas kasihan.. Mak Asih mengulurkan selembar uang ribuan ke tangan si pemuda, yang sebenarnya masih mempu untuk bekerja

Cacat fisik tidak membuat seseorang kehilangan harga dirinya.. Justru kekurangan bisa mendorongnya membuktikan diri bahwa ia sanggup bertahan hidup tanpa mengandalkan belas kasihan orang lain..  Tapi terkadang, cacat hati membuat kita kehilangan harga diri..

Iklan

2 pemikiran pada “Mak Asih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s