Sang pemilik mata tajam.. (part 2)


cat

Aku selalu salah di matanya.. Entah apa yang harus aku lakukan agar aku terlihat menjadi manusia yang benar.. Sekaliii saja.. 

-cerita sebelumnya-

 

Ia memperlakukanku berbeda dengan kedua abangku. Pada mereka berdua, sang pemilik mata tajam terlihat lebih longgar. Pernah terlintas dalam hatiku, mengapa ia lebih keras padaku dan tidak pada mereka? Bahkan aku pernah merasa bahwa aku seperti dianaktirikan olehnya. Pikiran buruk terlintas dalam benakku..

“Apakah ia benar-benar sangat membenciku?”

Hingga secepat kilat kutepis perasaan itu. Maka aku bertekad, sejak saat itu aku akan berubah. Aku berharap suatu hari nanti, sang pemilik mata tajam akan menyunggingkan senyumnya untukku. Dan mencintaiku seperti ibuku mencintainya.. 🙂

Aku berusaha keras menjadi manusia yang lebih baik dari hari ke hari. Jika ia tidak menegurku, berarti aku mengalami kemajuan. Masih mendapatkan tatapan tajam darinya? Kubalas dengan senyum termanisku. Aku pun mulai memperhatikan setiap kebiasaannya, mencoba memandang segala sesuatu dari kaca mata ‘mata kucing’nya. Dari sudut pandangnya. Dan akupun berusaha mencintai apa yang ia cintai..

Di balik sifat kerasnya padaku, aku mengetahui bahwa ia sangat penyayang. Setidaknya itu terlihat dari caranya mencintai kucing-kucing yang selalu datang untuk meminta jatah makanan padanya. Ya, ia sangat mencintai kucing. Selalu meluangkan waktunya memberikan makanan pada mereka. Bahkan kucing-kucing itu bukanlah kucing piaraannya.

Semakin lama aku semakin bisa memahaminya. Dan akupun bisa mencintainya dengan tulus tanpa terbersit rasa kesal sedikitpun padanya, seperti yang dulu mungkin pernah aku rasakan. Bahkan kini.. sudah tak pernah lagi kudengar suara lantangnya menegurku. Dan berganti dengan senyum manis. Beberapa kali kami asyik terlibat obrolan dan ia dengan senang hati akan mendongeng untukku tentang kisah masa lalu..

Sekarang aku tahu, sifat kerasnya padaku adalah bentuk kasih sayangnya untuk membuatku menjadi perempuan yang tidak mudah menyerah, peka pada keadaan di sekitarnya, disiplin dan menjadi lebih baik setiap harinya.

***

Aku memandang foto yang terjatuh dari buku diary-ku sesaat yang lalu saat aku membersihkan debu di atas tumpukan buku-buku koleksiku.

Ahh.. aku sangat merindukan mata tajam itu menatapku.. Kuharap beliau baik-baik saja.. 🙂

Aku turun dari taksi berwarna biru yang membawaku ke rumah dengan halaman luas dan bercat putih. Seorang perempuan renta yang dikelilingi kucing sedang terduduk membaca koran. Ketika ia melihat kedatanganku, ia bangkit dan tersenyum menyambutku. Mata yang dulu dihiasi kacamata mata kucing itu kini terlihat lebih sayu..

Aku mencium hormat tangannya yang mulai keriput. Lalu ia membalas mencium sayang kedua pipiku. Dari nada suaranya aku tahu ia merindukanku. Sebesar aku merindukannya.. Dengan suara seraknya beliau berkata..

“Nak Rini, mbah sampai kangen sama nak rini.. :)”

 

Dan sebulir air mata menetes di pipiku..

Uyut-nya Syifa dan Reina
Uyut-nya Syifa dan Reina
Iklan

4 pemikiran pada “Sang pemilik mata tajam.. (part 2)

  1. simbah selalu punya cara sendiri untuk menunjukkan kasih sayangnya. kadang ga pas di hati kita memang. tapi niatnya pasti selalu untuk kebaikan kita…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s