Sang pemilik mata tajam..


kacamata kucing

Rio baru saja menurunkan aku dari sepeda motornya saat sepasang mata tajam menatap kami berdua yang beberapa menit yang lalu tertawa karena mendengar sebuah lelucon garing yang didengar Rio dari Dion teman sekelas kami. Aku menghentikan tawaku dan memberikan tatapan tajam ke arah Rio untuk melakukan hal yang sama. Kami berdua pun terdiam, lalu menunduk dan memberikan salam hormat kepada pemilik mata tajam yang sedang mengamati kami beberapa saat sebelumnya.

Malamnya.. aku mengobrol sambil tertawa-tawa dengan mba Dian sepupuku yang juga berbagi kamar denganku. Sang pemilik mata tajam itupun kembali menatapku tajam. Lalu berkata dengan suara sedikit keras pada kami berdua, “Kalau masih mau ngobrol, di luar saja.. Ini sudah malam..”

Dan kami berdua pun segera terdiam. Membuka mulut kami masing-masing tanpa mengeluarkan suara sama sekali, seakan-akan berkata.. ‘kamu siiihh…’ lalu sama-sama tertawa cekikikan. Dan langsung menghentikan gurauan kami saat pemilik mata tajam itu berdehem memberikan peringatan keduanya.

***

Aku selalu salah di matanya. Entah apa yang harus aku lakukan agar aku terlihat menjadi manusia yang benar. Sekaliii saja..

Sejak beberapa tahun yang lalu ia resmi menjadi teman sekamarku. Dan aku harus merelakan hilangnya privasiku. Takkan ada lagi jadwal mendengarkan radio hingga tengah malam apalagi bertelepon ria dengan teman-temanku. Semua berubah sejak kehadirannya. Beberapa bulan yang lalu, mba Dian ikut tinggal di rumah kami. Kamar kost yang hendak disewanya baru akan ditinggali penghuninya bulan depan. Jadi untuk sementara, ia bergabung bersamaku dan pemilik mata tajam itu.

Ketika akhirnya mba Dian pindah ke kamar kost di dekat kampusnya, akupun kembali berbagi kamar dengan sang pemilik mata tajam. Selain usia yang terpaut sangat jauh, sikapnya yang terkesan kaku menambah jarak dalam hubungan kami. Tapi aku tak pernah membencinya. Ibuku sangat mencintainya. Dan akupun berusaha melakukan hal yang sama..

Jika ia adalah orang yang dicintai ibuku, maka akupun mencintainya.. Karena aku mencintai orang yang dicintai ibuku.. 🙂

Saat aku sedang menyapu, ia menatapku sekilas. Lalu kembali menekuni korannya. Tapi dari balik kacamata mata kucingnya, ia mengawasiku tajam. Saat aku meninggalkan sisa debu di dekat kakinya, ia pun menggunakan kesempatan itu untuk menegurku dan memberikan petuah-petuahnya.

Setiap pagi ia akan membangunkan aku dengan suara lantangnya sembari memberikan wejangan-wejangan khas yang hampir setiap hari kudengar. Selalu dan selalu..

Dan aku tak pernah membantahnya.. Aku hanya terdiam, dan tersenyum hormat padanya..

Pikiran buruk sempat terlintas dalam benakku..

“Apakah ia benar-benar sangat membenciku?”

 

-to be continue-

Iklan

2 pemikiran pada “Sang pemilik mata tajam..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s