Anakmu dan anakku…


mommy

Dua orang ibu sedang terlibat pembicaraan.. Mereka sedang mengasuh anak mereka masing2 yang terpaut sekitar 2 bulan.. Sebut saja bu Dede dan bu Mia.. Mereka saling bercerita tentang perkembangan anak mereka masing masing.. Jika dibandingkan sekilas.. kedua anak tersebut sama-sama tumbuh sehat.. Namun secara postur, anak ibu Mia terlihat lebih tinggi dan besar.. sedangkan anak bu Dede mungil tapi agak gendut..  Anak bu Mia memang 2 bulan lebih tua daripada anak bu Dede..

“Kayla (anak bu Mia) dulu umur berapa bisa tengkurapnya?” tanya bu Dede..
“Sekitar 3,5 bulan..”
“Kalau Nasya belom bisa.. Bisanya waktu umur 5 bulan..” ibu Dede bercerita..
“Trus.. kalau mulai berdiri2.. umur berapa?”
“delapan bulan..”
“ooh gt..” Bu dede menatap putrinya yang berusia 9 bulan tapi belum menampakkan tanda-tanda bahwa anaknya mau berdiri.. Si mungil Nasya yang menggemaskan itu terlihat sedikit takut2 untuk merangkak.. Namun karena melihat Kayla merangkak cepat di depannya ia pun terdorong untuk merangkak menyusul Kayla..  Keduan putri kecil itu tertawa bersama dan saling bercanda..

Tak lama.. setelah terdiam cukup lama.. sepertinya berpikir sendiri dala hati Bu Dede pun kembali membuka suara.. “Nasya ini anak saya yang ketiga.. kedua kakaknya cepat perkembangannya.. Semuanya sudah bisa berdiri-berdiri waktu seumur Nasya.. Saya sendiri umur 9 bulan juga sudah bisa berdiri.. Ini gak tahu kenapa lambat begini.. Kayanya mah dari keluarga suami saya.. soalnya keponakan saya yang dari suami juga begitu… ” dan meluncurlah cerita2 lain dari mulut Bu Dede..

 

Cerita di atas mungkin pernah terjadi di sekitar kita.. saya ngga menyalahkan Bu Dede yang memiiki pembenaran bahwa ‘keterlambatan’ perkembangan si anak bisa jadi adalah keturunan dan merupakan gen dari sang suami.. Tapi.. bagaimana jika seandainya sang suami Bu Dede mendengarnya? Apa reaksinya??

 

Coba bedakan dengan cerita berikut..

“Wah.. anaknya lucu ya bu.. umur berapa? Udah bisa berdiri-berdiri ya…”
“Alhamdulillah.. Umur 10 bulan..”
“Matanya kecil ya.. tapi kulitnya coklat..”
“Iya.. matanya kecil seperti kakeknya.. Kulitnya seperti saya.. Coklat.. Mudah2an pintarnya seperti ayahnya..”

Dan kedua perempuan itupun tersenyum.. 🙂

 

 

 

Daripada melihat pasangan kita dari sisi kelemahannya.. bukankah lebih baik melihat dari sisi positifnya?

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s