Kata-kata yang tak sempat terucap..


6

Aku melihat perempuan itu dari jauh.. Ia berjalan dengan gontai.. Aku menatap wajahnya.. Lalu kualihkan pandanganku saat matanya menangkap mataku yang tengah mengawasinya.. Ah.. aku ketahuan..

Lain waktu aku menjumpainya lagi.. dengan wajah penuh dengan air mata.. sungguh aku ingin menyapanya.. Tapi aku tidak mengenalnya.. Haruskan aku memperkenalkan diri di saat seperti ini? Kurasa.. saat ini bukan waktu yang tepat..

3 hari kemudian, aku melihatnya terduduk di sebuah batu besar.. Wajahnya lusuh dan rambutnya acak2an.. Entah apa yang terjadi padanya.. Aku mendekatinya.. dan ia menatap mataku penuh arti… Ketika aku hendak mengajaknya berbicara, tiba-tiba sebuah suara keras memanggilnya.. Ia tersentak.. memandangku dengan pandangan ‘cepat pergi sebelum ia melihatmu..’. Dan aku tak punya pilihan lain.. aku pun berlalu meninggalkannya..

 

Aku pulang dengan beribu pertanyaan.. Siapa dia? Ada apa dengannya? Mengapa aku bertemu dengannya? Apa ia dalam masalah? Apa seharusnya aku menemuinya lagi? Dan ratusan pertanyaan lain yang tak satupun pertanyaan-pertanyaan itu yang kuketahui jawabannya..

Aku terdiam menatap jendela kamarku.. suasana di luar sangat sunyi.. Hujan turun dengan derasnya.. sebuah suara kecil terdengar.. Sebuah suara dari tempat yang sangat jauh.. Suara yang mengingatkan aku dan menuntunku untuk menemui sang perempuan..

suara hatiku..

 

Aku pun segera mengenakan jas hujan lalu menyambar payung hijauku.. Kuputuskan untuk mencari perempuan itu.. Kakiku melangkah menuju tempat pertama kali aku bertemu dengannya.. Tapi ia tidak ada di sana.. Segera kuberlari menuju tempat dimana aku melihatnya menangis.. tetap tak kutemukan dirinya.. Juga di dekat batu besar tempat aku terakhir kali meninggalkannya.. Tak ada siapapun di sana.. Lelah terasa.. dan aku memutuskan untuk pulang..  

Sejak saat itu.. aku tak pernah lagi melihatnya….

 

Pagi ini aku membaca surat kabar dan menemukan wajah yang sama terpampang dalam sebuah berita..

 

“Seorang gadis ditemukan meninggal di dalam kamarnya.. Diduga ia korban kekerasan dari sang ayah..”

 

Aku mengamati kembali wajah itu.. Ya.. wajah yang sama yang kulihat beberapa waktu yang lalu.. Aku menyesal sekali tidak mengajaknya bicara saat itu.. Dan saat kupikirkan kembali tatapannya padaku.. Benarkah sebuah tatapan ‘cepat pergi sebelum ia melihatmu..’…? Ataukah sesungguhnya tatapan itu adalah sebuah tatapan “kumohon… tolong bawa aku pergi dari sini..”.

Sebulir air mata menetes di pipiku.. Ah.. seandainya saja saat itu ia sempat berbicara padaku.. Mungkin aku masih bisa menyelamatkan nyawanya…

 

 

 

 

Untuk sebuah kata “tolong aku..” yang sangat sulit untuk diucapkan…

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s