sesaat setelah pertemuanku dengannya…


angel

 

Hari itu kau datang padaku.. katanya ada sesuatu yang penting yang ingin kau katakan padaku.. Jantungku berdetak lebih cepat.. aku merasa tidak tenang.. Aku tahu arah pembicaraan kita.. Kau ingin meresmikan hubunganmu dengannya.. Ya.. kau ingin Indah mendampingi dirimu.. mengisi relung hatimu.. dan berbagi ruang denganku..

“aku ingin menikahinya..”

Begitu ucapmu.. Berusaha mengatur kata-kata.. dan berbicara perlahan.. Lalu terdiam.. menunggu reaksiku.. Aku pun terdiam.. tak tahu harus berkata apa.. Karena aku tahu.. suka atau tidak.. ini memang pasti akan terjadi.. Kita berdua sama2 terdiam.. Hening.. Hingga suara telepon berbunyi.. Ah.. save by the bell.. Aku pun berdiri.. beranjak dari tempat yang membuatku merasa sesak.. lalu mengangkat telepon..

 

Aku tak lagi merasa nyaman di rumahku sendiri.. Tiba-tiba saja aku menjadi asing di rumah yang lebih dari 10 tahun yang lalu menjadi tempat ternyaman di dunia.. Aku harus pergi.. memberikan waktu untuk diriku.. menenangkan diri.. Kuputuskan menghabiskan waktu meninkmati kopi di kafe di sudut jalan.. sendirian.

 

3 cangkir kopi hitam sudah kuhabiskan.. Saatnya kembali ke rumah.. Kurasakan kepalaku sedikit pening.. Ah.. mungkin ini reaksi kafein berlebih yang menyatu dalam darahku.. Kuputuskan untuk memesan sebotol air mineral dan menunggu pesanan datang sambil menyenderkan kepala ke sandaran sofa.. Setelah peningku menghilang, aku pun memutuskan pulang..

 

***

Aku mengizinkan priaku menikahinya.. Perempuan itu.. Wanita kedua itu.. Aku tahu, apapun yang aku katakan takkan merubah keputusannya.. Perempuan itu sudah terlalu dalam berada dalam pikiran suamiku.. Taringnya sudah menancap ke dalam pori2.. Racun cintanya telah menyebar ke seluruh pembuluh darah suamiku.. dan aku tak bisa melakukan apa2 kecuali menerimanya..

Dan kini, di sinilah aku berada, menyaksikan pernikahan laki-laki yang pernah kusebut belahan jiwaku.. dengan perempuan asing yang tak pernah kukenal sebelumnya.. Perempuan yang kini berbagi ruang denganku.. di hati lelakiku..

Aku tahu, tak ada yang salah dengan ini semua.. Kami berdua mencintai pria yang sama.. dan aku tak boleh egois.. Semua yang ada di dunia ini hanya titipan.. Termasuk anak dan suami.. Jika memang harus begini keadaannya.. Aku harus bisa ikhlas…

Dan akupun menjadi orang pertama yang bahagia atas pernikahan ini..

***

 

Seandainya cerita hanya berakhir di sana… Maka kami akan hidup bersama.. selamanya…

 

Tapi yang terjadi…

 

 

18 menit yang lalu aku kehilangan kendali.. Aku melabrak perempuan kedua suamiku.. Aku bertengkar dengannya saat suamiku membawanya ke rumah kami.. Aku pun mencoba menampar pipi bersemu merah dengan blush on pink yang menyapu pipi bertahi lalatnya.. Tapi suamiku mencegahnya.. Ia membela perempuan itu!

Perempuan yang sebelumnya kusebut dengan “perusak rumah tangga orang”.. Ya.. aku lepas kendali.. Aku kehilangan kesabaranku.. Dan yang membuat aku sakit hati.. Pria yang kunikahi 15 tahun yang lalu justru membela perempuan itu.. bukan aku!

Aku menangis dan masuk ke ruang tengah.. Sebuah pisau tergeletak di atas meja.. Aku kalap.. kuraih pisau itu dan kutusukkan ke perut perempuan itu.. Lalu ke dada suamiku.. dan aku merasa puas..! Aku senang bisa meluapkan emosiku.. Kini aku terduduk gemetar di antara 2 tubuh yang terbujur kaku di samping kiri dan kananku.. Darah tergenang di lantai yang kini membasahi celana jeansku..

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s