Jangan marah dong bunda…..


1

 

Seorang ibu dengan 3 orang anak yang berusia balita terlihat lelah mengurus ketiga buah hatinya.. Yang sulung berusia 4 tahun, anak keduanya berusia 2,5 tahun dan si bungsu baru berusia 10 bulan.. Si tengah baru saja rewel.. pengen naik odong-odong.. sedangkan si bungsu sedang aktif2nya belajar berdiri.. si ibu mengurus ketiganya sendirian.. Tanpa seorang baby sitter.. Kepayahan? Tentu saja..

Setelah menggendong si bungsu lalu menemani si tengah berodong-odong ria.. Sang ibu masuk ke dalam rumah.. Si sulung yang tadinya sedang bermain rumah-rumahan terlihat berjalan ke ruang tamu.. berpapasan dengan bunda dan kedua adiknya.. Terdengar percakapan mereka…

“Kakak mau ke mana?”
“Main sama Lia..”
“Ke rumah Lia?”
“Iya..”

Sang ibu bertanya sambil masuk ke dalam rumah menuju ruang tengah.. Alangkah terkejutnya ia melihat rumahnya seperti kapal pecah.. Perkakas rumah2an berserakan di mana-mana sedangkan ia baru saja membereskan barang-barang di ruang tamu yang diacak2 si bungsu yang sudah mulai aktif memindah-mindahkan barang..

Meledaklah amarah sang ibu.. Lalu ia berkata dengan sedikit kesal.. “Kakak… bunda bilang juga apa.. Kalau habis main, barang-barangnya dikembalikan lagi ke tempatnya… Kan sudah bunda belikan kotak untuk menyimpan mainan.. Kakak ngga sayang ya sama bunda? Kakak mau bunda cepet tua…..” dan meluncurlah omelan-omelan lain yang demikian panjangnya… Sampai puas hati ibu meluapkan kekesalannya…

Si kakak yang mendengar omelan bundanya hanya terdiam.. Berjalan lagi masuk ke dalam rumah.. ke ruang tengah dan membereskan semua mainannya yang berserakan di ruang tengah…

Melihat si sulung tidak membantah.. sang ibu terdiam.. Amarahnya pun mereda.. hening terasa… Bunda kembali ke ruang tamu.. memegang tangan si bungsu dan membantunya belajar jalan.. Tak lama terdengar suara.. Suara senandung…

 

“kasih ibu.. kepada beta.. tak terhingga sepanjang masa… hanya memberi tak harap kembali.. bagai sang surya…..”

 

Belum sampai lagu itu selesai.. bunda pun memeluk si sulung dalam dekapannya lalu menciumnya dengan sayang.. Sebulir air mata menetes di pipinya… 🙂

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s