Kuharap.. ada cerita tentang kita.. nanti..


lup

Bayu melajukan sepeda motornya dengan kecepatan sedang.. Hari ini Ratih akan pulang ke kota buaya.. Berarti ini hari terakhir ia akan bertemu pujaan hatinya.. Semalam ia urung mengungkapkan perasaannya pada gadis manis tersebut.. Tapi hari ini ia bertekad akan mengungkapkannya..

Tak lama ia telah sampai di depan kost Sita..

“Pulang jam berapa Rat?”
“rencana ke kost mba Susi dulu.. pamitan sekalian bilang makasih udah dibantuin ngambil data..”
“Ohh.. aku antar ya..”
“Kangen dikau pada mba Susi?”

Aku hanya tersenyum… Tak lama Ratih berkata..
“boleh.. malah seneng ditemenin..”
Ouch.. Ratih! Kata-kata itu keluar begitu saja dari bibir mungilmu.. Tapi sukses membuat jantungku bekerja lebih keras.. jantungku terasa berdetak lebih cepat.. Oohh.. aku bisa kena serangan jantung.. Karena serangan cintamu! *hadah.. lebaaayyyyy… :D*

 

Setelah mengantarkan Ratih menemui Susi aku pun memutuskan mengantarkan Ratih sampai rumahnya.. Ya.. aku ikut ke kota buaya.. Awalnya ia menolak, tapi aku memaksa untuk mengantarnya sampai di rumahnya dengan alasan bahwa aku ingin memastikan ia sampai di rumah dengan selamat.. Sambil tertawa tergelak ia pun mengiyakan permintaanku..

Berdua kami naik bus dari terminal Arjosari menuju Purabaya.. Di jalan kami ngobrol ngalur ngidul hingga sampai pada masalah hati.. Ternyata tujuan Ratih ke Malang selain karena mencari subyek penelitiannya juga untuk menenangkan diri dari Brama mantan kekasihnya yang sekarang jalan dengan sahabat Ratih sendiri.. Padahal aku udah ge er kalo dia datang untukku.. *pentung-pentung kepala pake panci :D* 😀

***

Kami sampai di depan rumah berpagar hijau.. Rumah bercat putih di luar namun bernuansa hijau di dalamnya.. Rumah yang terasa sangat nyaman.. Kedua orang tua Ratih menyambut kami.. hangat.. dan aku pun mengenalkan diri sebagai Bayu, teman SMA Aina, sepupu Ratih.. Lalu aku dan Ratih duduk di teras depan rumahnya.. tak lama aku pun membuka percakapan..

“Mm.. Ratih, ada yang pengen aku bilang ke kamu..”

“Ya?”
“Beberapa hari ini kita udah ketemu dan ngobrol-ngobrol banyak.. walau sebelumnya kita udah telpon-telponan khan ya?”

“Ya.. trus?”

“Aku pengen bilang.. kalau aku.. mmh.. aku suka sama kamu..”

“Tapi khan kita baru ketemu?”

“Ya.. ngga pa pa.. aku cuma mengikuti hatiku.. dan aku pengen bilang begitu..”

“Oke.. aku hargain perasaan kamu.. Kamu cuma nyatain ajah khan? Atau kamu butuh jawaban?”

“aku memang cuma ingin bilang begitu.. dan aku ngga memaksa kamu menjawab sekarang.. Kalau kamu belum bisa menjawabnya..”

“Kalau kamu butuh jawabannya sekarang.. aku cuma bisa bilang.. aku belum bisa.. belum bisa menerima siapapun juga sekarang.. baik kamu atau orang lain.. Sekarang ini aku cuma butuh waktu untuk menenangkan diri dulu.. Kuharap kamu mengerti..”

Dan akupun menganggukkan kepala sebagai tanda bahwa aku memahami maksudnya.. Lalu aku pun mohon diri.. Dalam perjalanan pulang aku berpikir.. Aku benar2 tidak kecewa bahwa cintaku berbalas kata tidak.. sama sekali tidak..

Aku sungguh mengerti perasaan dirinya.. Dikhianati kekasih oleh sahabat sendiri bukanlah pengalaman yang menyenangkan.. Aku mengingat-ingat kembali kata-kata Ratih.. Ia hanya mengatakan “belum bisa”.. bukan “tidak bisa”..

Aku hanya perlu bersabar.. hingga kamu membuka diri kembali Ratih.. dengan orang yang baru.. dan kuharap..

 

 

itu aku.. 😀  

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s