…hanya dengan menjadi dirimu…


luph him

Sore itu aku sedang membuat 2 cangkir teh manis untuk berbuka puasa.. Di kamar kost minimalis kami yang berukuran lebih kurang 3×5 meter termasuk kamar mandi dalam kamar.. Aku membayangkan akan menikmati menu berbuka puasa sederhana ini denganmu.. Nasi hangat.. dan martabak telor kesukaanmu.. :).

Tak lama pintu pun diketuk.. priaku membawa dua bungkusan.. Bungkusan pertama martabak telor.. dan bungkusan kedua martabak manis keju coklat.. Kesukaanku.. Aku pun tersenyum.. Priaku ini tahu saja.. Tanpa kuminta ia sudah membawakannya..

Tak lama adzan maghrib berkumandang.. Kami meneguk teh kami dengan perasaan lega.. Kurma sebagai takjil pun sudah kami makan.. Kami bergantian mengambil air wudhu lalu sholat berjamaah.. Selesai sholat kami berdua menikmati menu makan malam, nasi hangat dan martabak telor.. Selepas makan malam.. aku merasa mual.. perutku bergejolak.. Janin berusia sekitar 2 bulan sedang tumbuh dan berkembang dalam rahimku..

Semakin lama rasa mual semakin hebat dan aku pun pasrah mengeluarkan kembali semua makanan yang baru saja beberapa menit yang lalu masuk dalam perutku.. Priaku mengikutiku masuk ke kamar mandi.. Tanpa banyak bicara ia memijit pelan pundakku.. Lalu mengusap sayang kepalaku.. Rasa pusing sekaligus lemah yang kurasakan sedetik yang lalu terasa menguap.. Tanpa rasa jijik ia mengguyur kakiku pun kakinya yang terkena muntahan makananku.. Aku menatap wajahnya dengan wajah kusut dan memprihatinkan.. Ia tersenyum padaku.. lalu berbicara pelan.. “sabar ajah ya..”. Ucapannya pun mau tak mau membuatku tersenyum..

Ia tahu tak banyak kata yang bisa dikatakan.. Tak banyak tindakan bisa dilakukan.. Tapi menemaniku.. dalam kondisi paling jelek sekalipun.. *emang ada ya yang muntah tapi wajahnya cantik jelita??!! :D*. Ia bersedia melakukannya.. Tanpa harus menjadi seorang superman.. Tanpa sayap putih di balik punggungnya.. Hanya dengan menjadi dirinya sendiri.. Menjadi suamiku..

 

Ketika aku mengenang kembali saat-saat itu, aku tahu tak perlu ribuan alasan mengapa aku bersedia tinggal bersamanya dan jauh dari kedua orang tuaku.. Mengapa aku rela ikut dengannya dan melepaskan pekerjaanku.. Mengapa aku bersedia hidup berdua dengannya dan membangun keluarga kami sendiri.. Tak perlu alasan mengapa aku menerima ajakannya menikah.. Tak perlu banyak penjelasan mengapa  aku rela melakukan itu semua… Karena engkau tahu.. semua itu karena…

 

 

Aku mencintaimu.. 🙂

 

selamat ulang tahun, papa syifa… 😀

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s