Mereka bilang aku nggak waras. Hanya karena aku mencintaimu. Cinta yang mereka nggak paham. Karena mereka nggak merasakannya.

Mereka bilang aku nggak waras. Karena mereka tidak pernah ketemu kamu, dan berbincang-bincang denganmu. Seperti yang selama ini aku lakukan.

Hanya karena mereka tidak pernah tahu dirimu sedalam aku mengenalmu, pantaskah mereka bilang aku nggak waras?
Mereka kan tidak mengenalmu sebaik aku mengenalmu?

Hari ini aku sedih. Tidak ada yang bisa memahamiku. Nggak ada! Dan akupun teringat padamu. Hanya kamu yang bisa mengerti aku. Yang bisa menenangkanku dan membuatku merasa nyaman. Seperti biasanya.

Kulompati pagar jendela kamarku, turun perlahan dari dahan pohon yang memang tumbuh rimbun mendekati jendela kamarku. Lalu berjalan berjingkat agar tidak ada yang mendengar.

Aku berjalan menyusuri gelapnya malam tanpa rasa takut sedikitpun. Bayangan akan bersandar pada bahu kekarmu membuat segala kekhawatiranku menghilang. Aku melirik jam di pergelangan tanganku. Pukul 21.30 WIB. Dan sekaligus menjawab pertanyaan dalam benakku mengapa tak seorang pun terlihat di sepanjang jalan yang kulewati.

Begitu aku melihatmu, aku langsung menghambur dalam pelukanmu. Tanpa banyak bertanya engkau pun mendekapku, mengusap lembut rambutku dan itu semua membuatku tenang.

Begitulah. Engkau selalu bisa kuandalkan. Selalu bisa membuatku nyaman. Dan akupun mencintaimu. Meski mereka semua bilang aku tidak waras. Hanya karena mereka tidak mengenalmu dan aku tak pernah mengenalkanmu pada mereka.

Cukuplah aku tahu keberadaanmu. Itu saja.

Aku terbiasa menemuimu di kala semua orang sudah lelap tertidur, dan aku akan kembali pulang tatkala pagi menjelang. Sebelum ayam jantan berkokok dan sebelum mereka semua terbangun dari mimpinya.

Tapi kali ini berbeda. Aku sudah tak perduli lagi. Dan akupun hanyut bersamamu. Aku tak mau pergi darimu, dan akupun tertidur dalam dekapanmu. Hingga mentari menampakkan sinarnya.

***

Pagi itu seorang lelaki separuh baya mengayuh sepeda tuanya, dan perempuan belahan jiwanya duduk di belakangnya. Mereka menyusuri jalan mencari sang putri tunggal. Putri tunggalnya yang mengaku memiliki kekasih bernama Rustin. Lelaki yang tidak pernah mereka temui sama sekali. Semalam, sang gadis menghilang dan pagi ini mereka berdua mencarinya.

Di samping sebuah pohon rindang mereka berhenti.

“Pak, itu Maya…”

Di bawah pohon rindang mereka menemukan sang anak gadis. Tertidur di samping sebuah nisan bertuliskan..

..Rust in vrede.

Catatan:

rust in vrede: beristirahat dengan tenang

–Selesai–

Tulisan pertama dipost di sini

Iklan

Satu pemikiran pada “Mereka bilang aku ngga waras…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s