Mahalnya sebuah kata Terima Kasih..


thx

Akhir-akhir ini saya sangat jarang mendengar kata TERIMA KASIH terlontar dari mulut orang-orang di sekitar saya.. Kecuali di kantor pelayanan umum seperti Bank atau perusahaan jasa lainnya, saya benar2 jarang mendengar kata “Terima Kasih” terlontar..

Ketika saya masih kecil, ibu saya selalu mengajarkan untuk mengucapkan kata “Terima Kasih” ketika seseorang telah memberikan sesuatu pada kita.. Tidak hanya berupa barang secara fisik, tapi juga saat orang lain memberikan bantuan tenaga atau pikirannya pada kita. Mungkin karena sudah menjadi kebiasaan, jadi saya ngga merasa aneh bila harus mengucapkan kata terima kasih.. Susahnya.. saya jadi ‘agak’ sedikit terganggu jika ada orang lain yang pelit mengucapkan terima kasih.. *riwil sekali saya ya?!* 😀

Contoh kasus, pada saat saya sedang menggunakan angkutan umum.. Lalu ada pengemis/pengamen yang datang.. Beberapa orang di dalam angkutan umum tersebut akan memberikan ‘bantuannya’ berupa sekeping uang untuk diberikan.. saya sangat jarang mendengar kata Terima Kasih terlontar dari para pengamen tersebut.. Begitupun jika ada anak kecil yang diberikan uang/makanan/hadiah oleh oom/tante/pakdhe/budhe bahkan kakek dan neneknya.. saya sangat jarang mendengar mereka secara spontan mengucapkan terima kasih.

Pada beberapa orang, kadang2 orang tuanya yang memancing dengan mengatakan “Hayoo bilang apa..? Terima…?” (dengan harapan anaknya bilang Kasih).. ini masih mending.. Tapi banyak orang tua yang cuek bebek ajah.. Bukan pamrih atau apa.. Tapi menurut saya.. mengucap kata terima kasih bukanlah sebuah tindakan yang hina.. Justru sebagai bentuk rasa penghargaan karena seseorang telah memberikan ‘sesuatu’ pada kita.. khususnya bantuan..

Itulah sebabnya saya bertekad untuk membiasakan mengucapkan terima kasih pada setiap kesempatan.. *ini mah lebay yah..?! :D*. Maksudnya.. saya akan mengusahakan untuk mengucapkan Terima Kasih pada orang2 yang sudah memberikan bantuan pada saya.. Dan hasilnya…? Sungguh menyenangkan..

Saat saya naik becak/angkutan umum. Saya merasa pak becak/pak angkot itu sudah membantu saya mengantarkan saya sampai tujuan.. Maka saat saya turun dari becak/angkot dan memberikan uang kepada mereka, saya akan menyelipkan kata “Terima Kasih/Matur Nuwun/Hatur Nuhun”. Hasilnya..? Beberapa di antara mereka akan mengucapkan “sama-sama” atau minimal mereka akan tersenyum pada kita.. Tuuuh.. dapet rejeki khan ya? 😀

Pun ketika saya membeli barang di warung, saat si penjual mengembalikan sisa uang belanja (uang kembalian) saya pun tak segan2 mengucapkan Terima Kasih.. (padahal mah harusnya mereka yang terima kasih ya?! Ah.. ngga masalah buat saya.. :D). Hasilnya pun saya mendapatkan bonus senyuman.. se-simple itu.. Dan saya menikmatinya.. 🙂

Setidaknya saya melatih diri membiasakan untuk berterima kasih.. dan juga modal mendidik anak-anak saya kelak.. Saya tidak mau mencetak generasi penerus yang tidak tahu cara berterima kasih.. *haduh.. bahasanya* :D.

Yah.. Cuma pengen sharing aja sebenarnya.. Demikian sedikit curcol saya di pagi buta.. Sekian dan Terima Kasih.. 🙂

 

 

Iklan

2 pemikiran pada “Mahalnya sebuah kata Terima Kasih..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s