Lelaki itu…


Adikku meminta ijin untuk menikah dan melangkahi aku, kakak perempuannya.. Aku pun merestuinya.. Aku berbesar hati mempersilahkan Budi menikah lebih dahulu.. Aku takkan menghalangi niat mulia adikku untuk menyempurnakan setengah agamanya. Dan akupun berdiri di sana.. dengan semua doa restuku padanya.. Lalu kembali ke Jakarta dan tidak pulang untuk beberapa waktu.. aku butuh waktu sendiri..

Kami beranjak dewasa.. satu persatu dari kami meninggalkan rumah tempat kami dibesarkan.. Suatu ketika aku mendapatkan surat dari ibu.. Kami sekeluarga kembali berkumpul.. Kali ini ibu yang memulai berbicara.. Di sana juga hadir seorang laki-laki.. Pria separuh baya yang kurang lebih seusia ibu.. Ibu meminta ijin untuk menikah lagi dengan pria tersebut..

Kami bertiga terdiam.. Sungguh tak menyangka hal ini akan terjadi.. Ibu menikah lagi? Sebuah tamparan telak kedua setelah Budi menikah melangkahi aku.. Aku tidak percaya pada keputusan ibu kali ini.. Bahkan ibu tidak bertanya bagaimana keadaanku? Mengapa ini terjadi? Aku pun mohon pamit dari ruang keluarga, masuk ke dalam kamarku dan tidak keluar hingga calon suami ibu pulang.. Entah apa yang kurasakan saat ini.. Kecewa, marah, kesal, bahagia, senang? Aku tak tahu.. Aku hanya tidak bisa merasakan itu semua sekarang.. Aku merasa… hampa…

Ibu menikah tanpa kehadiran kami bertiga. Kami masih tidak percaya ada sosok pengganti ayah di hati ibu. Aku pun tak habis pikir apa yang ada di pikiran ibu setelah menolak setiap lelaki yang datang memintaku tapi ibu sudah menikah dua kali..! Bahkan aku belum menikah hingga kini.. Ya.. sekarang aku 34 tahun..

***

Semua teman sebayaku sudah memiliki keluarganya masing2.. Beberapa di antara mereka telah memiliki 2 orang anak. Aku tak menyesal dengan keadaanku saat ini.. Tapi aku juga tidak memungkiri aku pun memimpikan memiliki sebuah keluarga. Memiliki seorang suami sebagai imamku.. dan memiliki buah hati yang memanggilku bunda.. Setiap malam aku bersujud, memohon pada Sang Pemilik Hidup.. memohon pada-Nya untuk memberikan kemudahan bagiku menikmati surga dunia.. Sebuah keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah. Aku selalu percaya bahwa setiap manusia memiliki jodohnya masing2..

Aku mengambil cuti panjang dan menghabiskan hari liburku mengajar musik di sebuah sekolah binaan teman baikku Anna.. dan akupun menemukan kebahagiaan di sana. Musik, dentingan piano, suara anak2 menyanyi dan terutama celotehan serta gelak tawa mereka.. Aku menikmati kegiatanku yang baru.. Saat aku menyalami anak2 yang akan pulang, aku bertemu dengan Diana. Teman kuliahku di kota Pahlawan.. Ternyata putrinya bersekolah di sana… Kami berbincang2.. bertukar nomor telepon dan ia pun mengenalkan kakak laki-laki tertuanya padaku.. Ia meminta maaf sebelumnya, dan hanya berniat memperkenalkan sang kakak padaku.. itu saja. Tidak lebih. Aku pun tersenyum, dalam hati aku berkata.. Aku hanya manusia biasa.. Jika memang ini jalanku untuk mendapatkan pendamping, semoga Allah memberikan kemudahan.. 🙂

***

Namanya Mas Rangga.. dia berusia 45 tahun.. Anak pertama dari 5 bersaudara. Aku mengobrol dengannya hanya sekadarnya saja.. Tapi banyak ilmu yang aku dapatkan darinya.. Atau karena ia seorang guru?

Mas Rangga memiliki 1 orang putri berusia 13 tahun.. Sang istri telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. Aku paham sekarang, ia hanya ingin sharing tentang membesarkan seorang anak perempuan yang sebentar lagi menjadi gadis kecil.. Aku tak tahu harus bicara apa.. Hanya beberapa cerita seorang teman yang aku bagi dengannya..

Entah mengapa aku merasa nyaman berbicara dengannya..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s