Ibu, izinkanlah aku menikah…


Suatu hari aku pergi ke taman hanya untuk melihat anak2 bermain. Dan aku bertemu mas Rangga dan putri mungilnya. Gadis itu tersenyum padaku.. aku tidak berusaha mengambil hatinya.. tapi gadis itu yang justru mendekati aku.. Entahlah.. aku seperti menemukan keluargaku di sini… dan aku nyaman bersama mereka..

Sejak pertemuan di taman itu.. kami seringkali bertemu lagi di taman yang sama.. Aku mengobrol dengan mas Rangga sementara Cika putrinya bermain.. Lambat laun kami semakin akrab dan tak jarang kami menghabiskan waktu bersama.. Suatu hari Mas Rangga menanyakan padaku sebuah pertanyaan yang akan merubah hidupku selamanya…

“Dik Ratna, maukah dik Ratna menghabiskan sisa hidup bersama dengan saya dan Cika? Kita bertiga, sebagai sebuah keluarga yang utuh?” dan aku pun merasa sangat bahagia.. Semua memang terasa indah pada waktunya.. 🙂

***

Setibanya di rumah aku pun masuk ke kamar, membuka laci dan mengambil selembar kertas dan bolpoint.. Menuliskan sebuah surat teruntuk ibu di desa..

“Ibu, hari ini aku menemukannya.. Aku telah menemukan jawaban atas pertanyaanku sendiri. Menemukan apa yang aku cari selama ini. Aku menemukannya ibu.. Selama ini aku sudah banyak mengalah, mengalah atas nasib yang menjadikan aku seperti saat ini. Tapi aku tak menyesal ibu. Aku bangga Budi dan Okta sudah bisa hidup mandiri.. Aku senang ibu sudah menemukan kebahagiaan lagi.. Dan kini saatnya untukku memperoleh kebahagiaanku..

Ibu, selama ini aku menyerahkan semuanya pada ibu. Di hari Hasan datang ke rumah, aku berharap ibu menerima pinangannya untukku.. Tapi itu tidak terjadi, dan aku hanya pasrah tanpa mengatakan apa yang sesungguhnya aku rasakan.. Pada saat itu sesungguhnya aku ingin mengatakan pada ibu bahwa aku menyukai Hasan. Tapi aku memikirkan perasaan ibu.. dan aku pun mengikhlaskannya..

Ibu, aku telah bertemu dengan pria yang Insya Allah akan menjadikan aku sebagai makmumnya.. dan aku ikhlas menjadikan dia sebagai imamku.. namanya Mas Rangga, seorang duda berusia 45 tahun. Ia mempunyai putri berusia 13 tahun, dan ia seorang guru SD.

Ya ibu, aku tahu. Ibu mungkin akan keberatan dengan bibit bobot bebetnya.. Tapi aku tahu ia sangat penyayang.. aku tidak lagi memperdulikan statusnya ibu.. Apalah arti sebuah status? Hanya sebuah embel2 di balik pribadi seorang anak manusia.. Aku juga tidak pernah memimpikan memiliki karir seperti sekarang.. Bagiku ini semua hanya sebagai anugerah dari Yang Maha Pengasih.

Ibu, aku sadar mas Rangga tidaklah muda, juga tidak setampan angan2 ibu akan seorang menantu impian.. Bahkan usianya pun 11 tahun di atasku.. Tapi aku juga tidak muda lagi, ibu.. aku tidak butuh cinta yang semu. Aku butuh seorang pemimpin, seorang imam.. aku tidak merasa ada yang salah dengan ini semua.. dan aku tidak merebut suami orang lain ibu..

Yang aku tahu, aku ingin membangun sebuah surga di dunia.. Membangun sebuah keluarga yang sakinah, mawadah, warohmah.. Aku merasa nyaman dengan Mas Rangga dan Cika.. Ya ibu.. aku mencintai mereka..

Ibu, kumohon kali ini restui kami.. dan Izinkanlah aku menikah…”

Iklan

2 pemikiran pada “Ibu, izinkanlah aku menikah…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s