Kisah Ratna..


ratna

Aku sulung dari 3 bersaudara. Aku perempuan, single, dan hanya seorang perempuan yang biasa2 saja. Aku terlahir dari keluarga sederhana di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kedua adik2ku laki2.. si tengah, Budi, terpaut 3 tahun di bawahku dan si bungsu Okta, 6 tahun di bawahku menjadi anak emas di keluarga kami.. Okta adalah keberuntungan. Terlahir dengan wajah tampan dan kecerdasan yang luar biasa.. tak heran ia selalu mendapatkan beasiswa di sekolah manapun yang pernah dia tempati. Sedangkan Budi, ia dengan kesederhanaannya selalu membuat orang di sekitarnya bahagia..

Ayahku telah meninggalkan kami untuk selama2nya.. Sebagai anak sulung mau tidak mau aku pun harus membantu ibu menyekolahkan adik2 dan membiayai hidup kami sekeluarga. Aku tak lagi memikirkan sekolahku.. Yang penting adik2ku bisa melanjutkan sekolah mereka dan bisa mencapai cita2nya.. Apalagi mereka anak laki2..

Ternyata nasibku cukup beruntung.. aku yang sudah tidak berharap banyak tentang nasib sekolahku ternyata diangkat menjadi anak asuh oleh salah seorang keluarga ayah. Selepas SMA akupun pindah ke kota Pahlawan untuk kuliah sekaligus bekerja.. Dengan keinginan kuat untuk menjadi manusia yang berhasil, aku lulus kuliah dan mendapatkan posisi yang cukup bergengsi di sebuah perusahaan. Kemudian aku dipindahkan ke ibukota dan mendapatkan promosi.. Aku senang sekali dapat dengan rutin mengirim uang ke desa untuk ibu dan adik2ku..

Aku tak pernah memikirkan lagi tentang percintaan sejak cintaku pada Bimo yang kandas karena dikhianati sahabatku sendiri.. Aku pernah beberapa kali menjalin cinta, namun ketika mereka mengetahui keadaan keluargaku, semua calon menyingkir satu per satu karena merasa keberatan bila setelah menikah mereka akan menjadi tulang punggung keluarga kami..

Aku semakin larut dalam pekerjaanku dan semua orang mulai menyebutku workaholic. Aku tak bermaksud seperti itu, semua justru karena pelampiasan aku karena tidak ada yang benar2 mancintaiku dengan tulus..

Suatu hari di liburan lebaran, aku bertemu dengan Hasan, teman SMA-ku.. Kami pun mengobrol tentang masa-masa SMA, dan aku baru tahu bahwa ia menyimpan perasaan padaku dan berniat untuk serius..

Ketika ia datang ke rumah untuk memintaku pada ibu, aku sudah senang.. Aku berharap dapat menghabiskan sisa hidupku dan berbakti pada suamiku.. Walaupun perasaan cintaku pada Hasan belum tumbuh, aku mau mencobanya..

Tapi aku sangat kecewa ketika ibu langsung menolak Hasan.. di depan Hasan ibu mengatakan bahwa aku telah dipinang oleh orang lain yang lebih menjanjikan.. Padahal aku tahu itu semua tidak benar.. Mengapa ibu tega berkata seperti itu? Mengapa ibu menolak Hasan yang tulus..?

Setelah Hasan pulang ibu berkata padaku.. “Nduk, kamu harus mencari laki-laki yang lebih daripada kamu.. Yang bagus bibit, bobot dan bebetnya.. Jangan seperti Hasan yang hanya seorang petani, yang…” dan mengalirlah semua alasan kenapa ibu menolak Hasan.

Aku pasrah saja.. kuserahkan masalah jodoh agar ibu yang memilihkan.. Namun, setiap ada pria yang datang.. tak satupun yang sesuai dengan kriteria ibu.. Akupun semakin focus bekerja dan mendapatkan promosi demi promosi.. Kesuksesanku dalam berkarir tak sejalan dengan kehidupan percintaanku..

Aku tidak pernah memikirkan lagi tentang cinta sampai akhirnya kami sekeluarga berkumpul dan berbicara dari hati ke hati. Adikku Budi memberanikan diri memulai berkata..

 

“Bu, mba.. Mohon maap sebelumnya.. Budi dan Sari sudah menjalin hubungan selama 5 tahun.. sudah luntang luntung ke sana kemari.. dan kami berdua sudah punya mimpi ingin membangun rumah tangga bersama… Budi cuma mau minta ijin, kami mau menikah.. Apa mba Ratna keberatan kalau kami menikah lebih dulu…?”

 

Kata-kata Budi seperti petir di siang bolong.. seperti arus air yang menyeretku ke bawah laut lalu menghempaskan kembali ke pantai.. aku menyadari.. Budi sudah 29 tahun, sudah sangat matang untuk menikah.. dan aku tersadar.. aku sudah 32 tahun..

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s