Sebuah cerita tentang Tegar..


tegar

 

Diana mengenang kembali masa2 itu.. waktu dimana ia tergopoh2 membawa si kecil ke dokter spesialis anak.. Hal yang seharusnya sudah dilakukannya sejak si bungsu menampakkan tanda2 alergi dan muntah2..

Kalimat yang dilontarkan oleh dokter seperti hantaman yang keras pada bathinnya.. betapa ia merasa sangat berdosa pada si kecil.. merasa begitu egois.. Memilih mengikuti hawa nafsu kembali bekerja ketika si kecil bahkan belum mampu untuk duduk menopang tubuhnya dan makan makanan padat.. Si bungsu yang masih membutuhkan air susu darinya!

 

“Yah… aku ingin bekerja lagi… Aku perlu sedikit keluar dari rutinitas ini… Hampir 2 tahun aku sama sekali tidak beristirahat.. Aku ingin kembali bekerja..” rengek Diana pada sang suami…

 

Ya.. ketika si sulung berusia 9 bulan, Diana sudah mengandung si bungsu.. Otomatis ia sama sekali tidak beristirahat mengurus bayi sekaligus kehamilannya yang baru.. belum lagi sang suami..

 

Seandainya saja suaminya berkata tidak.. Mungkin ia tidak ada di sini sekarang..

 

Kembali pikirannya melayang.. dan ia mendengar suara dokter spesialis itu berkata.. “Mengapa ibu baru membawanya setelah sedemikian parahnya? Anak ibu terkena keracunan ASI yang bercampur dengan bakteri.. dan pembuluh darah anak ibu sudah pecah”..

 

Kata2 dokter membuat Diana seakan disambar petir di siang bolong.. Ia terjatuh.. pingsan.. Tak sadarkan diri selama 2 jam.. Sang suami menemaninya hingga ia terbangun.. dan mereka berdua menunggu di depan ruang perawatan khusus tempat terbaringnya si kecil Tegar.. Hingga akhirnya dokter memperbolehkan pasangan muda itu untuk menunggui Tegar di dalam ruang perawatan.. Bayi berusia 4 bulan itu terkulai lemas.. Luka alergi terlihat di seluruh tubuhnya.. Menambah sedih perasaan Diana..

 

Sang suami pun berkata pelan pada Diana.. “Bunda, ikhlaskan adik (panggilan untuk Tegar), semoga ia mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT..”. Dengan tangis tertahan, Diana pun berkata.. “Iya adik sayang… istirahat yang tenang ya sayang.. maafkan bundamu nak.. Bunda ikhlas..” dengan kata2 lirih dan senyum yang tertahan…

 

Dan si kecilpun pergi… untuk selama2nya…

 

 

Hari ini di depan makam mungil tempat terbaringnya Tegar.. Diana mendapatkan jawaban..

Putra bungsunya Tegar… memang dikirim oleh Allah SWT untuk memberikan spirit kepada kedua orang tuanya.. Agar mereka tetap tegar selepas kepergiannya…

 

 

Kepergian Tegar menyisakan kenangan dan pelajaran berharga untuk Diana dan seluruh perempuan lain di dunia.. Untuk selalu berhati-hati.. Jangan mudah memberikan ASI dalam botol.. jika kita tidak benar2 mengetahui kualitas ASI dalam botol tersebut..

ASI yang diharapkan bermanfaat untuk pertumbuhan tubuh si kecil justru menjadi racun karena terkontaminasi bakteri…

 

Semoga tidak ada lagi Tegar2 yang lain yang mengalami nasib serupa…

 

Iklan

Satu pemikiran pada “Sebuah cerita tentang Tegar..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s