Di balik pintu itu…


dont go

BRAK…BRAK!!!!!!

Tya berusaha membuka pintu yang ada di balik punggungnya.. Pintu itu terlalu kokoh.. sekuat tenaga ia membukanya.. Namun pintu itu tidak bergeming..

“Kak??!! Kakak di dalam..??” Buka pintunya.. Kakak baik-baik ajah khan..?”. Tak ada jawaban..

Darah terus mengalir dari lubang di bawah pintu itu.. Tenggorokannya tercekat.. Wajahnya pusat pasi.. Bagaimana mungkin ia menulis surat tentang perasaannya.. Tanpa ia mempedulikan bagaimana perasaan Didit sesungguhnya..

Apa yang terjadi di dalam…??

Sebuah kekuatan muncul dari dalam diri Tya.. Sebuah dorongan keras dari bahu mungilnya akhirnya dapat membuka pintu berwarna merah itu..

Di sudut ruangan ia melihat sesosok tubuh kekar Didit terbujur.. Pergelangan tangan kirinya bersimbah darah.. silet terlihat di sebelahnya…

Wajah itu masih memerah.. darah di mana2.. Secepat kilat ia menelepon ambulans.. semoga belum terlambat..

—-

Dokter mempersilahkannya masuk ke dalam ruangan putih itu.. Tampak olehnya wajah lelaki yang sangat dicintainya.. Seseorang yang dipanggilnya Kabut Pagi…

“Kak.., kakak sudah baikan?”.. Ia tersenyum.. walau hatinya sangat pilu melihat Didit dalam keadaan mengenaskan seperti ini. Dalam hati ia berbikir.. apa ini karena Bayangan Kesempurnaan itu..? Gadis yang selalu ada dalam pikirannya…? seseorang yang membuatku tak bisa menyentuh hatinya…?

Didit mengangguk dengan lemah.. Kabut di matanya berangsur2 menghilang.. berubah dengan keceriaan saat dilihatnya gadis mungil di sampingnya.. Wajah yang ingin dilihatnya selama 2 minggu terakhir.. Wajah dengan bola mata indah yang meneduhkan. Bola mata jernih yang selalu membuatnya bahagia.. Yang selama ini dicarinya.. dan bertanya2 dalam hati apakah ia sudah kehilangan.. Ia menemukannya.. Menemukan lagi gadis yang dicari-carinya.. sekarang ada di dekatnya.. dan ia tak ingin melepaskannya lagi.

Tya menyadari bahwa tidak seharusnya ia ada di sana.. Itu hanya akan semakin menyakiti hatinya.. Menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa memiliki hati laki-laki yang ada di depannya.. Ia memalingkan wajah.. Lalu secepat kilat menyeka bulir2 air mata sebelum menetes di pipinya.. Lalu dengan cepat ia menoleh kembali ke arah Didit, dengan senyum tersungging di bibirnya..

“Kak.. aku harus pergi.. Siang ini aku akan kembali ke Yogya.. Semoga cepat sembuh.. Dan jangan bertindak bodoh.. Jangan lagi..”. Lalu ia beranjak..

Didit menarik tangannya.. menggenggamnya.. Lalu berbisik pelan.. “Jangan pergi Tya.. Jangan lagi.. Kumohon…”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s